Hubungan Gejala Gastrointestinal dan COVID-19
4 Gejala Gastrointestinal terkait Virus Corona

4 Gejala Gastrointestinal Umum pada Pasien Virus Corona COVID-19

Posted on

Pada salah satu studi awal pasien COVID di Amerika Serikat terhadap virus corona, sejumlah peneliti menemukan sepertiga dari pasien mengalami gejala seperti kehilangan nafsu makan, diare, dan mual.

Batuk, sesak napas, dan demam merupakan beberapa gejala umum yang ditemui pada sejumlah kasus COVID-19, namun ternyata ada gejala-gejala lain yang diluar dugaan terjadi kepada mereka, yaitu yang bergubungan dengan gastrointestinal, seperti mual dan diare. Ini merupakan studi baru yang ditemukan oleh tim peneliti dari Stanford Medicine.

Sejumlah peneliti mengemukakan bahwa selain gejala pernapasan bagian atas pada pasien CIVID-19, sejumlah besar orang-orang yang sakit dengan virus baru ini juga mengalami kehilangan nafsu makan, muntah, mual, dan diare.

Riset paling awal berkaitan dengan kondisi tersebut diterbitkan pada 10 April 2020 di Gastroenterologi.

Beberapa yang terlibat dalam riset ini antara lain dr. George Cholankeril dan dr. Alexander Podboy sebagai leader dan Aijaz Ahmed seorang dokter dan profesor gastroenterologi dan hepatologi yang merupakan penulis senior.

Podboy menyampaikan bahwa COVID-19 mungkin bukan hanya gejala pernapasan seperti batuk. Sepertiga dari pasien yang ia pelajari memiliki gejala gastrointestinal.

Ia melanjutkan bahwa mungkin saja ia kehilangan sebagian besar pasien yang sakit dengan vrus korona karena strategi pengujian yang dilakukan pada saat ini hanya sebatas pada gejala pernapasan saja.

Situasi yang Unik terkait Gangguan Pencernaan pada Pasien COVID-19

Saat pandemi melanda Bay Area di San Fransisco pada awal Maret, sejumlah rumah sakit mulai membatalkan operasi elektif dan menunda kunjungan pasien non-darurat untuk memberi ruang bagi loncakan pasien virus corona.

Dengan ditutupnya klinik dan ditahannya beberapa proyek, sekelompok ahli gastroenterologi dapat memiliki waktu untuk bekerja sama dalam sebuah proyek, lanjut Podboy.

Hubungan antara gejala gastrointestinal / gangguan pencernaan (diare, mual, muntah) terhadap virus corona COVID-19
Rekan penulis studi Alexander Podboy, Vasiliki Aivaliotis dan George Cholankeril.
(Credit: Vasiliki Aivaliotis)

Goerge mengetahui sejak awal bahwa karena Stanford adalah salah satu rumah sakit pertama yang mendapatkan pasien COVID-19 di Amerika Serikat, bahwa segala jenis pengalaman awal akan menjadi penting.

Podboy juga menambahkan bahwa ia dan timnya berada pada posisi unik untuk melihat subyek gejala gastrointestinal di antara pasien virus corona di Stanford.

Sejumlah peneliti menyadari pertumbuhan penelitian di Singapura dan Tiongkok yang menunjukkan hubungan gejala GI pada pasien COVID-19, namun masih belum menemukan data tentang topik dari pasien di Amerika Serikat.

Mereka lalu memutuskan untuk melakukan penelitian di antara mereka sendiri dengan melakukan pemeriksaan terhadap grafik dari kelompok pasien paling awal yang dirawat untuk virus di Stanford Health Care.

Hasil Studi terkait Gastrointestinal terhadap Pasien dengan COVID-19

116 pasien yang telah dinyatakan positif terjangkit virus corona dianalisis datanya oleh para peneliti di Stanford Health Care pada tanggal 4 s.d. 24 Maret. Mayoritas dirawat dan dilepaskan dari ruang gawat darurat klinik dan rumah sakit.

Kemudian 33 orang dirawat di rumah sakit, 8 diantaranya berada di unit perawatan intensif. Usia rata-rata pasien adalah 50 tahun, 53 persen dari jumlah mereka berjenis kelamin laki-laki. Dalam kelompok tersebut, hanya 1 kematian yang dilaporkan.

31,9 persen pasien dilaporkan mengalami gejala gastrointestinal. Mayoritas kelompok tersebut melaporkan mengalami gejala ringan. 22% mengatakan mereka mengalami kehilangan nafsu makan, mereka yang mengalami mual dan muntah sebanyak 22%, dan 12% mengalami diare.

Dalam laporan tersebut, setidaknya terdapat 4 gejala umum terkait gastrointestinal terhadap pasien COVID-19, yaitu:

  1. Kehilangan nafsu makan
  2. Mual
  3. Muntah
  4. Diare

Selain itu, Cholankeril juga menyebutkan bahwa 40 persen pasien mengalami peningkatan kadar enzim hati yang tidak normal. Mereka yang mempunyai kadar tinggi memerlukan rawat inap lebih banyak.

Pengujian yang disarankan terkait masalah gastrointestinal terhadap pasien COVID-19

Sejumlah peneliti memberikan saran bahwa meskipun data ini masih dalam tahap awal dan hanya berasal dari satu lembaga, hasil yang diperoleh memang meningkatkan kemungkinan orang yang terpapar virus corona mengalami gejala gastrointestinal (bukan hanya mereka yang memiliki gejala pernapasan saja yang) harus diuji.

Podboy menambahkan bahwa dalam kelompok pasien yang ditanganinya, semua pasien mempunyai gejala pernapasan sebelum berembangnya gejala gastrointestinal.

Menurutnya, tidak ada pasien yang memiliki gejala gastrointestinal sebelum berkembangnya gejala pernapasan atau sebagai satu-satunya manifestasi mereka dari COVID-19.

Cholankeril menyebutkan bahwa para peneliti berencana untuk mempelajari peran gejala GI dalam COVID-19 dan implikasinya pada tingkat keparahan penyakit dan hasil dari rawat inapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *