Panduan Pola Makan bagi penderita asam lambung
6 Tips Pola Makan bagi Penderita GERD dan Gangguan Asam Lambung

6 Tips Pola Makan dan Pilihannya bagi Penderita GERD

Posted on

Pola makan adalah salah satu bagian 3P yang perlu diikuti bagi penderita GERD, dua yang lain adalah pola pikir dan pola hidup. Artikel ini akan membahas secara khusus bagaimana pola makan jika diterapkan dengan disiplin tinggi bersamaan dengan kedua pola yang lain, akan memberikan dampak yang signifikan terhadap proses penyembuhan. Namun, sebelum membahas tentang tips dan triknya, yuk kita flash back sebentar tentang GERD.

GERD singkatan dari Gastroesophagus Reflux Disease, sebuah penyakit yang masih masuk dalam genre gastroenterologi yang bisa menyerang siapapun dan kapanpun.

Tidak dipungkiri, lambat laun penyakit ini semakin “digemari” oleh banyak orang, khususnya di Indonesia, yang mulai ramai diperbincangkan pada pertengahan tahun 2000-an hingga sekarang.

Mas Darwis adalah salah satu tokoh legendaris yang pernah menuliskan kisahnya terkait penyakit ini. Diagnosis awal pada sekitar tahun 2007 dokter menyampaikan bahwa penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang Amerika. Saat itu dokter tidak menjelaskan secara detail dan meminta Mas Darwis untuk mencari referensinya sendiri di internet untuk memahami lebih lanjut tentang karakter penyakit ini.

Dengan tulisan yang pernah ia rangkum menjadi 3 bagian tersebut, ia menyampaikan secara gamblang, lugas, singkat, dan jelas bagaimana harus menghadapi dan memahami seluk beluk penyakit ini, sekaligus memberikan tips-tips yang diberikannya.

Jika Anda penasaran dengan kisah berjibakunya dia dalam menhadapi penyakit ini, Anda bisa mengunjungi bacaan pada tautan ini.

Tulisan ini sesungguhnya adalah turunan dari kisah tersebut dan mencoba memaparkan lebih detail mengenai salah satu pola dalam 3P wajib yang sangat direkomendasikan bagi orang-orang dengan GERD untuk dijalani.

Jika Anda tidak yakin dengan gejala-gejala yang umum dirasakan seperti layaknya orang-orang dengan GERD, Anda harus memastikannya dengan melakukan beberapa tes bersama dengan dokter “kesayangan” Anda.

Salah satu tes yang paling umum adalah dilakukannya Endoskopi Atas, yaitu dengan memasukkan selang berbentuk tabung dengan kamera perekam di ujungnya untuk mengetahui lebih lanjut keadaan saluran cerna atas, khususnya area LES atau Lower Esophageal Sphincter.

Bahkan dalam kasus tertentu, pemeriksaan upper endoscopy ini bisa dilakukan dengan mengambil sampel jaringan dari suatu organ.

Selain tes endoskopi, ada juga beberapa tes diagnostik yang bisa dilakukan, seperti pemeriksaan asam ambulatory, manometri esofagus, dan seri GI Atas.

Kembali ke persoalan pola makan. Sebenarnya tim penulis sudah menjabarkan secara cukup jelas pada bagian artikel diet GERD, namun, secara khusus akan dijabarkan lebih luas pada area ini untuk mengetahui lebih detail bagaimana pola makan ini harus dijalankan. Tulisan ini adalah bagian yang saling melengkapi.

Tips 1 – Tidak memakan makanan berlemak tinggi. Mengapa?

Tidak dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang dengan gangguan saluran pencernaan dirasakan oleh mereka yang mengalami obesitas alias kelebihan berat badan.

Akan menjadi pertanyaan mengapa lemak mempengaruhi orang-orang sehingga menderita panyakit ini.

Seorang konsultan gastro-enterologi yang sangat terkenal pada skala nasional, Prof. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH pernah menyampaikan dalam acara peresmian Yayasan Gastroenterologi Indonesia, bahwa lemak yang tinggi akan membuat waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama, sehingga memicu GERD.

Makanan berlemak tinggi akan membuat dapat membuat lambung Anda memproduksi lebi banyak asam untuk mengolah makanan tersebut. Risiko iritasi terhadap sistem pencernaan Anda bisa terjadi karena hal ini.

Makanan yang digoreng dan mengandung lemak bisa membuat katup Lower Esophageal Sphincter menjadi lebih rileks. Kondisi ini memungkinkan asam lambung akan lebih banyak mengalir kembali ke area kerongkongan.

Konsumsi terlalu tinggi lemak dan gorengan akan menempatkan Anda pada risiko yang lebih besar terhadap gejala refluks asam. Maka solusi yang tepat bagi Anda penderita GERD adalah dengan mengurangi total asupan lemak harian termasuk gorengan.

Tips 2 – Hindari makanan dan minuman berkafein

Ini tentu akan menjadi sedikit kekecewaan bagi pecinta kopi dan teh. Kenikmatan meminum kopi dan teh serasa tercabut setelah mendengar saran ini.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa kafein merupakan komponen utama dari sejumlah varietas kopi dan teh. Kedua minuman ini telah diidentifikasi sebagai pemicu heartburn pada sebagian orang.

Kefein dapat memicu gejala GERD karena membuat LES menjadi lebih rileks. Kondisi katup tersebut yang semakin rileks bisa menyebabkan asam lambung naik menuju kerongkongan.

Kopi dan teh sangat disarankan untuk dihindari meskipun belum ada penelitian besar yang dirancang dengan baik bahwa penghapusan kopi dan teh dari program diet GERD.

Tips 3 – Hindari minuman berkarbonasi

Sifat unik yang dimiliki oleh minuman berkarbonasi dapat berpotensi membuat penyakit GERD menjadi lebih buruk. Berhenti konsumsi minuman berkarbonasi sangat direkomendasikan sebagai bagian dari modifikasi pola makan untuk pasien dengan gejala-gejala GERD.

Termasuk di dalamnya adalah soda. Gelembung-gelembung minuman berkarbonasi dapat mengembang di dalam lambung, sehingga meningkatkan tekanan pada lower esophageal sphincter.

Tekanan tersebut akan sedikit banyak berkontribusi terhadap refluks asam.

Tips 4 – Tunda keinginan makan cokelat selama proses perawatan

Bubuk kakao dalam cokelat memiliki sifat asam dan dapat meningkatkan gejala. Kakao bisa menyebabkan sel-sel usus yang mengendurkan LES untuk melepaskan gelombang serotonin.

Ketika otot LES ini rileks, isi lambung bisa naik ke arah esofagus. Jika hal ini terjadi, maka akan menyebabkan sensasi terbakar di area kerongkongan.

Untuk menjadi perhatian pula, cokelat juga mempunyai kandungan kafein dan theobromine yang juga bisa meningkatkan gejala.

Tips 5 – Kurangi bawang-bawangan

Bawang, terlebih bawang mentah merupakan pemicu umum heartburn. Bawang bombai juga masuk dalam kategori ini.

Dalam sebuah riset disebutkan bahwa orang-orang yang makan hamburger bersamaan dengan bawang mengalami gejala yang lebih buruk dibandingkan yang tidak menyertakan bawang.

Disamping itu, bawang bombai juga mempunyai serat yang dapat difermentasi. Fermentasi serat tersebut dapat menyebabkan sendawa, dan sendawa bisa memperuruk gejala refluks asam.

Kandungan bawang yang difermentasi mengandung FODMAPs, yaitu sekelompok senyawa yang bisa memicu masalah pencernaan.

Tips 6 – Mint, bukan ide yang baik

Mint atau peppermint bukanlah makanan yang direkomendasikan bagi penderita GERD.

Pusat Medis pada Universitas Maryland telah merilis informasi bahwa peppermint sebenarnya dapat mengendurkan otot sfingter (LES), sehingga potensi naiknya asam lambung beserta isinya menuju ke esofagus akan semakin tinggi dan akan memperburuk kondisi orang-orang yang mengalami GERD.

Jika Anda sering mengalami heartburn atau GERD, jalan yang terbaik adalah mengindari produk-produk rasa mint untuk menghindari iritasi lebih lanjut dan sesuatu yang menyertainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *