Definisi heartburn
Rasa Panas Terbakar di Dalam Dada Akibat GERD

Beberapa Fakta tentang Heartburn: Penyebab, Gejala, dan Diagnosis

Posted on

Anda mungkin akan merasakan kepuasan atau kenikmatan tiada tara ketika memakan makanan lezat, pedas, dan mengandung banyak lemak.

Namun, adakalanya ketika Anda sudah mengakhiri sesi makan tersebut, terdapat nyeri yang sangat menusuk di bagian dada dan ulu sehingga Anda bergegas mengambil obat-obatan antasid akibat ketidaknyamanan yang menjadi-jadi setelahnya.

Apa itu Heartburn?

Heartburn adalah rasa panas membakar di area dada Anda, bahkan sampai menusuk ke punggung, disertai dengan rasa asam yang dirasakan di bagian belakang mulut, serta menyebar ke aliran kerongkongan Anda.

Heartburn umumnya disebabkan oleh makanan yang dianggap bermasalah oleh lambung Anda. Namun tidak menutup kemungkinan jika heartburn ini menjadi bagian dari gejala medis khusus, termasuk GERD (Gastroesophageal Reflux Desease) di dalamnya.

Dalam beberapa kasus, biasanya heartburn dapat diatasi dengan hanya meminum jenis obat-obatan jenis OTC (over the counter) atau obat-obatan yang dijual bebas di pasaran dan cenderung tidak menyebabkan efek samping atau kerusakan permanen.

Efek jika durasi Heartburn Terlalu Sering

Namun, durasi dan repetisi heartburn yang sering bisa menyebabkan kerusakan pada saluran esofagus Anda yang mungkin beresiko pada pendarahan, peradangan, bahkan kesulitan menelan.

Jika hal ini terjadi, Anda harus menjalankan perawatan khusus.

Dari studi kasus yang pernah dilakukan oleh The American College of Gastroenterology (ACG), lebih dari 60 juta penduduk di Amerika Serikat mengalami heartburn paling tidak sebulan sekali.

Menurut beberapa studi juga disebutkan bahwa lebih dari 15 juta populasi di Amerika Serikat mengalami gejala heartburn setiap hari.

Bahkan heartburn ini juga sering terjadi pada orang tua dan wanita hamil. Jurnal BMC Clinical Evidence menyebutkan bahwa antara 17 dan 45 persen wanita hamil melaporkan gejala heartburn-nya.

Laporan Harvard Medical School terkait Heartburn

Sementara itu, Harvard Medical School juga mencatat bahwa menurut sebuah survei, 65 persen orang mengalami gejala heartburn baik pada siang maupun malam hari.

Di antara mereka yang melaporkan gejala yang terjadi pada malam hari, 75 persennya mengalami kesulitan tidur, dan 40 persennya menyatakan bahwa gejala tersebut berdampak pada performance saat mereka bekerja di hari berikutnya.

Durasi Gejala Heartburn Bahkan bisa Bertahan Beberapa Jam

Heartburn akan menjadikan sensasi terbakar dan menyakitkan di bagian sternum, yaitu bagian dalam dan tengah tulang dada Anda.

Yang harus dijadikan perhatian adalah, rasa sakit karena simtoms ini bisa menjadi-jadi setelah Anda mengkonsumsi makanan berat, ketika Anda membungkuk, berbaring, dan frekuensinya akan sering di malam hari.

Rasa terbakar akibat heartburn bisa berjalan antara beberapa menit dan beberapa jam.

Dampak yang dirasakan selain sensasi terbakar di dada

Selain sensasi terbakar di dalam dada Anda, heartburn yang dirasakan juga dapat berdampak pada:

  • Sensasi terbakar di area tenggorokan
  • Adanya cairan di tenggorokan dengan rasa pahit, asam, maupun asin
  • Rasa kesulitan saat menelan makanan
  • Rasa makanan yang tertinggal di dada atau tenggorokan bagian bawah

Kebanyakan kasus heartburn terjadi dan dimulai ketika Anda makan makanan besar, namun hal tersebut juga bisa dipicu karena makanan-makanan tertentu, bahkan ketika Anda memakannya dalam jumlah kecil.

BEBERAPA MAKANAN DAN KEBIASAAN / GAYA HIDUP YANG DAPAT MENYEBABKAN ASAM LAMBUNG MENGALIR KE KERONGKONGAN / ESOFAGUS

Di antara kerongkongan dan lambung Anda terdapat sebuah cincin otot yang bertugas memastikan makanan yang ada di kerongkongan masuk ke dalam lambung.

Cincin ini bersifat elastis, ia akan mengencang kembali atau kembali pada posisi terkunci jika makanan sudah tertelan dan masuk ke dalam lambung.

Tugas ini tentu saja menjaga agar isi makanan beserta asam yang mengolah makanan di dalam lambung tidak menuju ke atas. Cincin ini disebut sebagai LES, atau Lower Esophageal Sphincter.

Namun adakalanya otot ini tidak benar-benar kencang dan menjalankan dengan baik sesuai dengan tugasnya.

Ketika makanan sudah masuk ke dalam lambung dan cincin otot tersebut tidak sepenuhnya menutup, maka asam lambung dapat menuju ke saluran atas, yaitu berjalan menuju kerongkongan. Ketika hal ini terjadi, bisa menyebabkan heartburn.

Makanan Pemicu Gangguan Asam Lambung

Terdapat beberapa makanan pemicu yang harus diwaspadai terutama bagi Anda yang sering mengalami heartburn ini, antara lain:

  • Tomat dan segala bentuk produk makanan olahan berbahan dasar tomat seperti pasta dan saus tomat
  • Segala jenis minuman yang mengandung alkohol.
  • Cokelat dan produk makanan berbahan dasar cokelat seperti selai cokelat, butter cokelat, susu cokelat, martabak cokelat
  • Permen mint atau produk yang sebagian besar mengandung mint
  • Kopi dan segala bentuk minuman yang mengandung kafein
  • Bawang merah dan bawang putih
  • Makanan berlemak
  • Gorengan dan segala jenis makanan yang digoreng
  • Makanan pedas, apalagi yang berlevel-level
  • Produk susu (berbeda dengan susu murni) penuh lemak
  • Buah-buahan jenis citrus seperti jeruk, lemon, jeruk nipis, jeruk bali
  • Minuman bersoda dan berkarbonasi

Gaya Hidup yang Dapat Meningkatkan Keparahan atas Gejala Heartburn

Terdapat beberapa perilaku atau kebiasaan yang penting untuk dihindari yang bisa berkontribusi terhadap keparahan gejala heartburn, antara lain:

  • Mengkonsumsi makanan besar dalam satu waktu
  • Mengenakan pakaian dan atau celana ketat
  • Berbaring terlalu cepat sehabis makan

Faktor Risiko yang perlu diperhatikan

Beberapa faktor resiko yang juga penting untuk diperhatikan bagi yang sering mengalami heartburn antara lain:

  • Merokok
  • Kondisi mental yang stress
  • Kegemukan atau obesitas
  • Kehamilan
  • Orang yang terdiagnosis GERD
  • Memiliki hernia hiatal

Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan keterkaitan atas tekanan psikologis / stress terhadap level keparahan dari heartburn itu sendiri meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda adanya refluks asam saat dilakukan tes medis.

Penelitian yang diterbitkan oleh The American Journal of Gastroenterology pada September 2017 menyebutkan bahwa hasil pengamatan terhadap sejumlah orang dengan heartburn dan gejala lainnya yang terkait, tidak kunjung lega setelah mengkonsumsi obat penghambat asam (proton pump inhibitors / PPI).

Para peserta penelitian juga ditanya tentang tingkat keparahan dari gejala tersebut, serta kondisi stress dan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Peneliti juga mengukur tingkat keasaman pada esofagus sebagai bagian dari pengukuran tingkat keparahan dari refluks asam yang terjadi.

Hasilnya mengejutkan. Di antara partisipan yang sudah terkonfirmasi terkena refluks asam, tingkat keparahan gejala yang mereka rasakan dapat diukur dengan jumlah refluks asam yang ada.

Tingkat keparahan yang mereka alami tidak terkait langsung dengan stress dan kualitas hidup.

Namun di sisi lain, di antara peserta yang dalam tesnya tidak menunjukkan adanya refluks asam, memiliki gejala (heartburn) yang lebih berat akibat kondisi psikis (stress) dan kualitas hidup yang buruk.

Sementara itu, resiko yang lebih tinggi juga dialamatkan bagi mereka dengan obesitas atau kelebihan berat badan.

Hal ini disebutkan dalam Jurnal Liver Disease yang diterbitkan pada Maret 2017.

Dalam penelitian tersebut, partisipan dibagi menjadi 2 grup, sorting berdasarkan indeks massa tubuh (BMI), yaitu kategori orang dengan berat badan normal dan kategori mereka dengan kelebihan berat badan.

Ini menarik, karena peserta merupakan pengkonsumsi obat-obatan PPI atau penghambat produksi asam untuk pengobatan gejala mereka selama periode follow-up 10 tahun.

Hasilnya juga mengkonfirmasi bahwa berat badan mempengaruhi gejala heartburn.

Partisipan dengan berat badan normal melaporkan rata-rata tujuh kali kekambuhan akibat heartburn setiap tahun, di mana hanya dua yang memenuhi syarat kategori dengan gejala berat.

Peserta yang kelebihan berat badan atau obesitas melaporkan rata-rata 11 kali setiap tahun, enam di antaranya memenuhi syarat dengan gejala berat.

Peserta dengan kelebihan berat badan atau obesitas juga lebih mungkin beresiko mengalami peradangan di kerongkongan mereka yang dibuktikan dengan pemeriksaan selang berkamera.

Heartburn yang Diakibatkan Efek Samping Obat-obatan Tertentu

Beberapa obat-obatan yang dapat berefek samping menyebabkan heartburn antara lain:

  • Antidepresan trisiklik
  • Teofilin (obat ini digunakan untuk mengobati asma dan penyakit paru-paru lainnya)
  • Beta-blocker (obat ini sering digunakan untuk mengobati penyakit jantung dan tekanan darah tinggi)
  • Calcium channel blockers (juga jenis obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi)
  • Progestin, hormon yang ditemukan dalam pil KB
  • Obat penenang, obat untuk gangguan kecemasan dan insomnia
  • Obat sejenis dopamin untuk penyakit Parkinson
  • Obat-obatan Antikolinergik

Pencegahan Heartburn dengan Mengubah Gaya Hidup

Berikut merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah dan mengurangi frekuensi serta keparahan yang diakibatkan oleh gejala heartburn:

Hal pertama, dari sisi makanan. Sebisa mungkin hindari atau stop makanan dan minuman yang dapat berpotensi menyebabkan heartburn.

Perlu diketahui bahwa alkohol dan makanan berlemak menjadi penyumbang umum yang memicu heartburn bagi sebagian orang.

Sebaiknya lakukan pencatatan tertulis dan simpan dalam catatan harian Anda terkait dengan makanan dan minuman apa saja yang baik untuk Anda.

6 Kebiasaan Inti yang Perlu Dilakukan agar Tidak Memperburuk Situasi

Jika Anda sudah berusaha menghindari atau tidak mengkonsumsi makanan dan minumann pantangan namun gejala heartburn Anda tak kunjung membaik, cobalah dengan merubah kebiasaan hidup, seperti:

  • Tidak makan makanan besar sekaligus, namun makan dengan porsi sedikit dan bertahap.
  • Telan makanan secara perlahan (dalam Bahasa Jawa: ojo kemaruk).
  • Lebih baik minum-minuman hangat (seperti minum air putih). Jauhkan diri dari minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan teh.
  • Jangan membungkuk atau memposisikan kepala dan atas tubuh di bawah perut setelah makan.
  • Jangan melakukan olahraga segera setelah makan, apalagi olahraga berat.
  • Beri jarak 3 hingga 4 jam untuk berbaring atau tidur setelah aktivitas makan.

Sementara itu, beberapa langkah lain yang dapat dilakukan untuk meringankan dan mengurangi gejala heartburn Anda antara lain:

  • Tetap jaga berat badan dalam keadaan ideal, turunkan badan jika Anda kegemukan.
  • Berhenti merokok, ini saran yang paling umum dan penting.
  • Pakailah pakaian yang longgar dan nyaman.
  • Posisikan kepala Anda lebih tinggi 6 atau 7 inchi dari perut saat Anda berbaring atau tidur. Ini terkait dengan gaya gravitasi yang mempengaruhi aliran asam dalam lambung.
  • Berolahraga yang cukup untuk meningkatkan kebugaran dan mengurangi stres.
  • Kelola stress Anda dengan berbagai kegiatan positif seperti berdoa, senam pernapasan, atau yoga.
Obat-obatan Jenis Over the Counter (OTC – Obat Tanpa Resep) maupun Obat Resep dapat Dikonsumsi sebagai Bagian dari Perawatan Akibat Heartburn

Jika langkah-langkah di atas masih belum cukup membantu dalam mengurangi dan mengatasi gejala heartburn Anda, tindakan yang perlu dilakukan untuk dipertimbangkan adalah dengan mengkonsumsi obat-obatan, baik dari jenis obat-obatan yang bebas dijual di pasaran maupun obat-obatan yang diresepkan dokter.

Antasid merupakan jenis obat yang cukup efektif dalam mengatasi gejala heartburn.

Jenis obat-obatan OTC yang bisa didapat dari jenis Antasid ini antara lain:

  • Maalox (kalsium karbonat)
  • Mylanta (magnesium hidroksida, simetikon, dan aluminium hidroksida)
  • Tums (kalsium karbonat)

Meskipun jenis antasida tersebut cukup efektif dalam mengatasi heartburn, namun tidak cukup bekerja baik bagi mereka yang sudah mengalami heartburn dengan frekuensi yang sering (atau pasien yang sudah terdiagnosis GERD).

Jika hal tersebut terjadi, Anda perlu mempertimbangkan untuk menggunakan obat-obatan dengan fungsi memblok asam lambung, atau biasa disebut H2 Blocker.

Jenis bloker asam yang dapat dijumpai di apotek-apotek umum antara lain:

  • Pepcid AC (famotidine)
  • Tagamet (cimetidine)
  • Zantac (ranitidine)

Selain H2 Blocker sebagai antagonis reseptor asam, juga terdapat jenis obat-obatan PPI sebagai pertimbangan berikutnya.

Obat-obatan ini biasanya digunakan untuk jangka waktu yang lama. Proton Pump Inhibitors / PPI bekerja dengan mengurangi produksi asam lambung. Biasanya jenis obat-obatan PPI diberikan atau dikonsumsi bagi mereka dengan gejala heartburn yang sudah sangat lama dialami dengan frekuensi berkali-kali.

Beberapa obat-obatan PPI antara lain:

  • Nexium 24HR (esomeprazole)
  • Prevacid 24HR (lansoprazole)
  • Prilosec OTC (omeprazole)

Jika heartburn yang terjadi pada Anda dialami secara berulang dan dalam frekuensi yang sering, Anda perlu mencurigai bahwa Anda terkena GERD.

Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut meskipun sebelumnya Anda sudah mengkonsumsi obat-obatan yang beredar di pasaran.

Kapan Anda harus Menemui Dokter?

Sejauh mana perlunya Anda segera menemui dokter ketika sedang mengalami heartburn?

  • Ketika gejala yang Anda alami memburuk dan menjadi lebih sering.
  • Ketika Anda merasa kesulitan dan rasa sakit saat menelan makanan.
  • Gejala Anda memburuk saat menggunakan obat-obatan yang dijual bebas (obat-obatan OTC).
  • Kecurigaan Anda terhadap efek samping obat yang sedang Anda konsumsi pada saat ini.
  • Rasa mulas yang menyebabkan muntah.
  • Heartburn yang sudah membuat kondisi suara Anda serak atau parau atau atau menyebabkan mengi.
  • Terjadinya penurunan berat badan yang drastis.
  • Heartburn yang Anda alami sudah dalam kategori mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti saat Anda bekerja.

Dokter Ahli dalam Masalah ini

Anda bisa langsung menemui dokter spesialis penyakit dalam (SpPD) atau internist dengan kualifikasi khusus sebagai konsultan gastroentero-hepatologi (KGEH) untuk mendiskusikan dan mengevaluasi lebih lanjut masalah heartburn yang Anda alami.