Definisi Functional GI Disorders
Contoh Gangguan Gastro Intestinal Fungsional pada Anak

Gangguan Gastrointestinal Fungsional

Posted on

Menurut rilis yang diterbitkan oleh International Foundation for Gastrointestinal Disorder, gangguan GI dan motilitas merupakan gangguan gastrointestinal (saluran pencernaan) yang terjadi pada masyarakat secara umum.

Menurut laporan, 1 dari 4 orang atau lebih di Amerika Serikat mempunyai salah satu dari gangguan ini.

Gangguan Gastrointestinal fungsional ialah gangguan yang terjadi yang melibatkan interaksi antara usus dan otak.

Kombinasi gejala yang ditimbulkan akibat gangguan tersebut antara lain:

  1. Gangguan motilitas, yaitu terjadinya kontraksi saluran pencernaan yang tidak normal.
  2. Hipersensitivitas visceral, kondisi peningkatan sensitivitas terhadap fungsi usus yang normal.
  3. Perubahan fungsi mukosa dan kekebalan tubuh, dengan ditandai adanya perubahan respon sistem kekebalan pada selaput lendir usus.
  4. Perubahan mikrobiota usus, yaitu terjadinya perubahan populasi mikroba dalam usus yang mempengaruhi biologis inangnya dalam kesehatan dan penyakit.
  5. Masalah pada pemrosesan sistem saraf pusat / altered central nervous system (CNS), ditandai dengan perubahan komunikasi terpadu antara otak dan saluran pencernaan.

Gangguan-gangguan di atas bisa disebabkan karena kelainan yang mempengaruhi bagian manapun dari sistem pencernaan, termasuk di dalamnya, yaitu:

  • kerongkongan,
  • gastroduodenal,
  • usus besar,
  • usus kecil,
  • kantong empedu,
  • saluran empedu, dan
  • anorektum.

Mengapa digunakan istilah “fungsional”?

Kata fungsional dipakai umumnya diterapkan pada masalah atau gangguan pada aktivitas normal tubuh (dalam hal ini) pergerakan usus, sensitivitas saraf usus, atau cara otak mengendalikan beberapa fungsi tersebut.

Tetapi, pada kondisi di atas, tidak ada kelainan struktural yang dapat dilihat dari sejumlah tes seperti endoskopi, sinar X, maupun tes darah.

Oleh karena itu, identifikasi dilakukan dengan mengetahui karakteristik dari gejala yang dialami (meskipun sangat jarang). Jika dibutuhkan, maka bisa dilakukan beberapa tes terbatas.

The Rome Diagnostic Criteria mengklasifikasikan kategori ini berdasarkan 3 macam, yaitu:

  • Gangguan Gastrointestinal fungsional (functional GI disorders).
  • Gangguan interaksi usus-otak (disorders of gut-brain interaction).
  • Menentukan kriteria diagnostik berdasarkan gejala untuk setiap kategori tersebut.

Gangguan gastrointestional fungsional (FGID) merujuk pada bagian kondisi usus tertentu dengan beberapa tanda seperti gejala gastrointestinal persisten yang berulang. Kondisi ini sulit untuk didiagnosis, namun kemajuan dalam ilmu kedokteran telah memberi para profesional medis suatu alat untuk membuat diagnosis yang lebih akurat dan tepat.

TANDA-TANDA YANG DIRASAKAN AKIBAT GANGGUAN GASTROINTESTINAL FUNGSIONAL

Gejala-gejala umum yang bisa terjadi ketika seseorang mengalami Functional GI Disorders antara lain:

  1. Rasa sakit pada bagian perut tanpa sebab yang jelas,
  2. Rasa tidak nyaman atau mengalami nyeri di kisaran dada.
  3. Sensasi terbakar di dada (heartburn).
  4. Mengalami disfagia.
  5. Muntah.
  6. Asma.
  7. Batuk kronis.
  8. Perasaan mual dan kembung yang berlebihan.
  9. Sembelit.
  10. Diare.

Sembelit dan diare dapat terjadi secara bergantian.

Apa Faktor Penyebab Gangguan Gastrointestinal Fungsional?

Seperti pada kutipan di atas, penyebab pasti atas kondisi tersebut seringkali tidak begitu jelas.

Namun, kadang-kadang sering dikaitkan dengan stres maupun kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya mengkonsumsi serat, tidak beraturnya jam makan, tidak berolahraga, dan sering menjalani aktivitas-aktivitas yang sangat sibuk.

Bagaimana Cara Menegakkan Diagnosisnya?

Melakukan diagnosis terhadap sejumlah gangguan di atas biasanya akan membutuhkan beberapa tim ahli dan staf perawat yang sudah mempunyai kualifikasi di bidang gastroenterologi.

Yang membuatnya sedikit sulit adalah sebagian besar pasien hanya akan menunjukkan gejala, namun tidak bisa menunjukkan kelainan fisik apapun ketika menjalani pemeriksaan awal.

Di sisi lain, gejala gangguan seringkali mirip-mirip dengan penyakit lainnya, seperti GERD (Gastro Esophageal Reflux Disease) yang sama-sama bisa mengalami sensasi terbakar di area dada (heartburn), sama-sama mengalami rasa mulas, kembung, dan sembelit yang berlebihan, juga sembelit. Ini yang akan membuat pekerjaan diagnosis menjadi lebih kompleks.

Bagaimana prosedur pemeriksaan dilakukan?

Seringkali gangguan GI fungsional dapat didiagnosis dokter dengan hanya mendengarkan informasi pasien secara cermat. Namun di sisi lain, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi kepada pasien.

Persiapan terhadap pemeriksaan ini tentu akan tergantung pada dokter yang menangani. Umumnya dokter akan menginformasikan kepada pasien terlebih dahulu tentang metode pemeriksaan yang cocok untuk dirinya.

Sebelum pemeriksaan, biasanya dokter akan meminta pasien untuk memberikan riwayat penyakitnya, termasuk alergi yang pernah atau sedang dialami, terutama terhadap obat-obatan tertentu.

Dokter juga mungkin akan meminta pasien untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu menjelang pemeriksaan dilakukan. Jeda dan waktunya tentu juga akan disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang akan dilaksanakan.

Namun, umumnya, pasien akan diminta untuk melakukan puasa terlebih dahulu, 4 hingga 8 jam sebelum tes-tes dimulai.

Pasien juga akan diminta tidak meminum obat asam lambung dalam sementara waktu, paling tidak 3 hingga 5 hari sebelum tes dilakukan.

Diluar daripada prosedur tersebut, tentu setiap dokter mungkin akan mempunyai kebijaksanaan sendiri-sendiri.

Berikut adalah beberapa tes yang mungkin pasien akan jalani untuk mendiagnosis gangguan gastro intestinal fungsional:

  1. Pemeriksaan fisik.
  2. Tes urin.
  3. Tes darah.
  4. Pemeriksaan tinja.
  5. Kolonoskopi, untuk melihat bagian dalam usus besar.
  6. Endoskopi bagian atas (upper endoscopy), untuk melihat keadaan bagian dalam kerongkongan, lambung, dan usus kecil.
  7. Tes pencitraan perut, bisa menggunakan X-ray atau USG.
  8. Tes nafas untuk melihat kemungkinan pertumbuhan bakteri yang berlebihan.
  9. Tes motilitas khusus untuk sejumlah bagian saluran gastrointestinal.

Beberapa jenis perawatan untuk penderita gangguan gastro intestinal fungsional

Paling tidak ada 3 macam treatment yang bisa dilakukan untuk menangani hal ini, yaitu:

  1. Melakukan konseling kepada ahli gizi. Pasien akan berkonsultasi dengan pakar nutrisi untuk mendapatkan diet yang tepat dalam mendampingi proses penyembuhan gangguan GI ini.
  2. Obat-obatan. Jenis obat-obatan yang mungkin diresepkan untuk pasien adalah obat pengurang produksi asam, obat pereda kejang pada usus, obat yang mengatur motilitas saluran pencernaan atau mengobati rasa sakit di tingkat saraf.
  3. Manajemen stres. Stres dapat memperburuk tanda dan gejala gangguan pencernaan, termasuk gangguan gastro intestinal fungsional. Pasien dapat berkonsultasi dengan pakar manajemen stres untuk proses ini.

One thought on “Gangguan Gastrointestinal Fungsional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *