Keterkaitan antara GERD dan anxiety
Sebuah Kisah Nyata Penyembuhan GERD dan Gangguan Kecemasan

GERD & Anxiety, Sebuah Kisah dan Pengalaman Panjang menuju Sembuh

Posted on

Assalamualaikum para penderita GERD & Anxiety yang berbahagia. Tidak berlebihan jika penulis menyampaikan hal ini karena memang Anda berada di halaman yang tepat untuk mengulik pengalaman panjang sang “maestro” GERD yang sudah menjalani penyakitnya sejak tahun 2007. Ya, 12 tahun yang lalu saat artikel ini ditulis.

Penulis akan menceritakan latar belakangnya terlebih dahulu sehingga Anda akan mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkannya mengalami penyakit ini dan bagaimana langkah-langkah dalam bertahan dan berkeyakinan untuk sembuh.

Namanya adalah Mas Darwis, pada tahun 2007, dia tinggal di Yogyakarta dan sempat bekerja di 2 tempat dalam satu hari. Di semester akhirnya tersebut, kegiatannya bertambah dengan menggarap karya tulis dan sejumlah tugas untuk mempersiapkan kelulusannya.

Di salah satu tempat ia bekerja, bisa menjalani 1 hingga 3 shift kerja, di mana 1 shift kerja berjalan selama 6 jam. Tidak jarang ia tidur kurang dari 5 jam di hari-harinya saat itu.

Aktivitasnya sedikit serabutan, banyak yang dikerjakan, ritme makan tidak teratur, sehingga menimbulkan sejumlah stres.

Tahun 2007, Gastroesofagus Level Minimal

Di suatu hari, Mas Darwis tiba-tiba merasakan keliyengan, posisi badan seperti tidak seimbang, perasaan mual ingin muntah, tapi tidak juga keluar isi di dalam perutnya.

Seketika itu ia meminta salah satu teman kampusnya untuk mengantarkan ke rumah sakit Dr. Sardjito di Yogyakarta.

Ketika sudah sampai di rumah sakit, ia dan temannya hanya keliling-keliling saja tidak jelas. Tadinya mau mencari poliklinik, tapi tidak ketemu, akhirnya sekedar melintasi ruangan-ruangan di rumah sakit.

Ketika sudah berada di rumah sakit Dr. Sardjito, perasaan Mas Darwis kembali normal, merasa seperti ada ketenangan setelah berkunjung ke rumah sakit ternama ini. Baik, kita catat paragraf ini sebagai salah satu poin yang nantinya bisa menjadi rujukan buat kita semua.

Akhirnya Mas Darwis dan teman yang bernama Joko bertolak menuju ke rumah sakit yang lebih kecil pada waktu itu, yaitu RS Condongcatur, kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Selama di perjalanan, Mas Darwis mengalami masalah yang sama seperti di awal tadi, dan ingin segera sampai di rumah sakit tujuan berikutnya. Tak disangka tak dinyana, ternyata ban bocor di tengah jalan, yaitu di Jalan Ring Road Utara, masih beberapa kilometer menuju RS Condongcatur. Dag-dig-dug, duer. Semakin keliyengan.

Setelah menambal ban, mereka langsung bergegas ke rumah sakit dan langsung menuju ke UGD, ditangani oleh General Practitioner alias dokter umum. Ada beberapa pemeriksaan yang dijalani, salah satunya adalah pemeriksaan darah.

Setelah menunggu beberapa waktu, didapat informasi jika hasil pemeriksaan adalah normal. Tidak ada masalah yang berarti, termasuk pemeriksaan tekanan darah.

Ketika berkonsultasi dengan dokter atas apa yang dirasakan pada saat itu, melalui data yang beliau pegang dan mengulik sejumlah informasi, dokter menyimpulkan kalau Mas Darwis terkena sakit Gastroesopageal / Gastroesophagus.

Menurut dokter, penyakit ini banyak dialami oleh orang Amerika. Seketika itu juga, Mas Darwis meminta dokter untuk mencatat pada selembar kertas nama penyakit ini, sehingga nantinya diharapkan bisa mendapatkan informasi lebih dalam tentang gastroesofagus.

Setelah dilakukan penelusuran di mesin pencari, ternyata Mas Darwis pada waktu itu belum menemukan literatur maupun bacaan tentang penyakit itu yang berbahasa Indonesia. Ia memaklumi karena memang di Indonesia pada waktu itu masih jarang sekali.

Sampai di sini tidak didapat informasi yang jelas pengobatan apa yang dijalani. Namun, Mas Darwis sempat mendapatkan beberapa obat-obatan pada waktu itu, dan berangsur pulih.

Tahun 2011, Asma yang bukan Asma

Sejak tahun 2009, Mas Darwis hijrah dari Yogyakarta ke Malang. Pada tahun itu ia menjalani beberapa kegiatan bisnis yang berujung gagal, kemudian di awal tahun 2010, Mas Darwis diterima sebagai seorang guru sekolah menengah kejuruan, masih di kota yang sama.

Setahun kemudian, di suatu subuh, Mas Darwis merasakan sesak nafas yang luar biasa, dia mengira sedang mengalami asma, sehingga mampir ke sebuah mini market untuk membeli obat asma. Apa yang terjadi setelah obat tersebut diminum, beberapa lama kemudian, semakin menjadi.

Pada saat sampai di sekolah tempat ia mengajar, Mas Darwis menuju ke UKS dan mendapatkan sedikit perawatan di sana. Ada seorang teman gurunya yang memberikan obat semprot Ventolin. Sempat mereda pada saat itu.

Tidak lama kemudian, dirasa sesak diikuti keliyengan serta merasa ada tekanan di area dada, ia diantar menuju klinik kampus yang berada dekat sekolah tempat beliau mengajar. Di sana, Mas Darwis diberikan obat lambung, tapi tidak dicatat nama obatnya apa.

Setelah pulang, Mas Darwis kemudian membeli Habbatussauda. Ada keredaan setelah meminum obat tersebut dan alhamdulillah sesak menghilang setelah meminumnya secara rutin. Baik kita catat poin kedua, Habbatussauda.

Jadi, poin pertama kejadian tahun 2007 adalah merasa adanya ketenangan setelah berkunjung ke rumah sakit, dan poin kedua adalah pengobatan dengan habbatussauda.

Di tahun 2011 ini, Mas Darwis belum menyadari bahwa sesungguhnya terdapat kejadian yang berkaitan pada 4 tahun yang lalu.

Oleh karena itu, hingga paragraf ini kita masih belum membahas detail tentang penyakit, penyebab, dan cara mengobati GERD. Mari kita lanjutkan!

Tahun 2013, hampir mati!

Pada pertengahan tahun 2012, Mas Darwis melanjutkan hijrahnya, dari Malang ke Jayapura, Papua. Semenjak menginjakkan kaki di Jayapura, hampir setiap hari ia makan makanan cepat saji, seperti mie instan.

Mie instan ditulis dengan huruf bold untuk memudahkan penelusuran kita bahwa ini menjadi salah satu penyebab, meskipun belum dilakukan riset secara komprehensif.

Dalam 1 hari, Mas Darwis bisa menghabiskan 3 hingga 4 bungkus mie instan multi varian. Campurannya hanya telur pada waktu itu.

Jumat malam sabtu, 20 September 2013 merupakan hari yang tidak bisa dilupakan dalam kehidupan Mas Darwis. Posisi saat itu adalah berbaring dan menuju lelap.

Seketika nafasnya berbunyi keras, terasa berat dan kesusahan. Ia merasa sedang dalam sakaratul maut, atau proses dicabutnya nyawa dari jasad. Pada saat itu, ia merasa sedang akan kembali ke-haribaan Ilahi.

Namun, kondisi tersebut membuatnya terbangun, bergegas mencari pertolongan, sambil meminum air putih. Ketika Mas Darwis keluar dari blok kamar kontrakannya, teman sebelah kamar juga keluar dan mengira dia sedang mengigau.

Setelah itu Mas Darwis menceritakan bagaimana kejadian itu berlangsung, kemudian temannya mengafirmasi kalau teriakan tadi adalah suara kesusahan bernafas.

Tak lama kemudian, suara Mas Darwis menjadi parau, serak, dan sakit. Pada saat itu pula ia diantar ke rumah sakit terdekat, yaitu RS Dok II, Jayapura. Langsung menuju ke IGD.

Keadaan rumah sakit tidak sepi, ada beberapa pasien yang terjangkit malaria, sehingga ia membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mendapatkan penanganan.

Tidak ada pemeriksaan khusus, dokter jaga saat itu hanya memeriksa dengan alat stetoskop dan melakukan beberapa wawancara. Akhirnya, seperti tahun 2011, Mas Darwis diberikan obat asma.

Dini hari terlewati, dalam 3 hari obat diminum tidak ada perubahan, pada akhirnya, senin dini hari, 23 September 2013, Mas Darwis mengalami kepanikan dan tidak bisa tidur, tidak bisa bernapas dengan lega, dan parno.

Selain itu, ia juga merasakan ingin mengeluarkan sesuatu dari tenggorokannya, dan apa yang keluar? cairan mirip dahak, namun sedikit bening, lebih mirip seperti lendir. Sesuatu ini terasa sangat mengganjal. Saat cairan tersebut dikeluarkan, Mas Darwis merasa lebih lega dan ringan, tetapi tidak dalam kurun waktu yang lama.

Pada dini hari itulah, dengan meminta bantuan kepada anak dari pemilik kontrakan, Mas Darwis menuju ke Rumah Sakit Militer, yaitu RS Marthen Indey, masih di Jayapura.

Pada saat memeriksakan diri di unit gawat darurat, Mas Darwis diperiksa tekanan darahnya. Ternyata, masuk dalam kategori tekanan darah tinggi, yaitu 149-80. Pada waktu diperiksa, masih dalam keadaan panik, namun berangsur reda. Dokter memberikan resep obat (tidak dicatat), kemungkinan obat penurun tekanan darah dimasukkan ke dalam resep.

Ketika pulang, Mas Darwis merasa lebih reda. Paginya, sekitar jam 8 Mas Darwis izin dari tempat kerjanya dan meminta diantar ke rumah sakit yang sama ketika dini hari tadi. Ia langsung menuju ke poli penyakit dalam. Saat menemui dokter, Mas Darwis menceritakan sejumlah kronologi dan keadaan yang sedang dialami selama ini, beserta keluhan-keluhannya.

Dokter TNI yang berpangkat Mayor tersebut menyarankan untuk foto di bagian dada, cek urin, DOT, dan darah.

Di hari yang sama, Mas Darwis mendapatkan hasil rontgen dan dokter menyatakan kalau ia mengalami infeksi paru. Kondisi ini yang kemudian membuatnya menjadi semakin stres, karena ia tidak mempunyai kebiasaan merokok, minum minuman keras juga tidak.

Tips untuk mengobati GERD secara efektif dan cepat
Stress salah satu penyebab GERD

Di hari itu, dokter memberikan sejumlah resep obat anti biotik, sejumlah obat racikan. Obat-obatan tersebut ternyata measih belum bisa meredakan gejala yang dialami sebelum-sebelumnya.

Pada hari Rabu, 25 September 2013, menuju ke rumah sakit yang sama untuk mengambil hasil beberapa tes seperti urin, DOT, dan darah. Di hari itu juga Mas Darwis menjalani USG.

Hasil dari penelusuran menggunakan USG menyatakan bahwa hati / liver mempunyai banyak lapisan lemak. Namun hasil DOT menunjukkan jika Mas Darwis tidak terkena TBC, alias negatif. Sementara itu, dari hasil USG ginjal, dokter memberikan obat peluruh batu ginjal, antibiotik, dan obat asam urat. Jadilah stres menjadi-jadi. Berpikir keras apakah sesuatu yang terjadi pada ginjal, liver, paru mempengaruhi keadaannya saat ini. Dan masih, ia belum percaya sepenuhnya jika ketiga organ tersebut bermasalah.

Beberapa hari kemudian, tepatnya di Jumat, 27 September tahun 2013. Persiapan menuju ke Masjid di depan Kampus Yapis Jayapura. Keadaan sudah setengah keliyengan.

Namun, ketika sudah mengambil air wudlu dan khotbah dimulai, rasa tersebut semakin menggila, dengan terpaksa ia kembali ke tempat kerjanya dengan menumpang angkot, serta melanjutkannya dengan sholat dluhur.

Setelah itu, ia meminta kepada sopir kantor untuk mengantarkannya pulang, beristirahat. Tak lama menjelang kedatangannya di rumah singgah, ia merasakan hal yang heboh lagi, sehingga ia meminta sopir kantor untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

Kali ini Mas Darwis ke UGD lagi, di rumah sakit Marthen Indey, diuap. Pertama kalinya untuk dia menerima prosedur ini.

Pada saat itu ia menceritakan kepada dokter UGD jika sudah menemui dokter di poli penyakit dalam dan diberikan sejumlah obat. Namun obat-obatan tersebut belum menunjukkan perbaikan hasil sehingga memicu efek yang berdampak pada kejadian-kejadian serupa di waktu sebelumnya.

Anehnya, ketika sampai UGD dan sudah diuap, perasaan menjadi tenang lagi. Kemudian Mas Darwis diantar pulang kembali menuju rumah singgah.

Sore itu juga, ia memesan tiket penerbangan ke hub rumah sakit terdekat yang mempunyai fasilitas lebih canggih. Ia melakukan reservasi pesawat dari Jayapura ke Makassar untuk keperluan ini.

Karena sang istri berada di Makassar, maka ia memintanya untuk menyiapkan akomodasi di sekitar rumah sakit untuk jaga-jaga dan penanganan yang lebih cepat.

Setelah melalui perenungan yang sedikit panjang, Mas Darwis bertekad untuk tidak menggunakan obat-obatan kimia dalam proses penyembuhan penyakit ini. Dengan keyakinan yang penuh, organ-organ vitalnya seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan liver masih bekerja dengan baik, sehingga ia ingin memastikan keadaannya dengan melakukan general check up di Makassar.

Sabtu, 28 September 2013, menuju ke Maros melalui Bandara Sentani, Jayapura.

Perasaan cemas, takut, parno, keliyengan, badan goyang-goyang sendiri, serasa tidak seimbang, menghantui selama perjalanan dengan pesawat GA 655. Tak lupa sesekali merasakan sesak napas, nafas berat, tergopoh-gopoh.

Dengan keramahan para pramugari di dalam kabin pesawat, ia selalu disediakan air hangat selama perjalanan untuk mengurangi sensasi yang kumat-kumatan itu.

Berkali-kali ia memikirkan tentang kematian, akhir dari kehidupan di dunia yang fana ini. Perasaan tenggorokan yang mengganjal, kedinginan, dan susah bernapas menjadi momok selama perjalanan.

Ketika keadaan tersebut terjadi, Mas Darwis mengalihkan perhatiannya dengan menonton acara lucu (waktu itu GAGS) yang tersedia di dalam channel entertainment system pada pesawat itu.

Saat ada hal yang lucu, perasaan tenang menghampiri lagi. Pada saat inilah ia mulai sadar jika sesuatu yang membuatnya senang akan merubah keadaan menjadi lebih baik.

Sekitar jam 5 sore waktu setempat. Pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros. Mas Darwis melanjutkan perjalanan ke Makassar, menuju kantor tempat kerja sang istri. Kebetulan penginapan tidak jauh dari kantor, sehingga setelah sampai kantor, ia dan istrinya menuju ke penginapan untuk beristirahat.

Meskipun jaraknya dekat (sekitar 200-300 meter). Walaupun jaraknya begitu dekat, dengan jalan kaki ia merasakan kelelahan yang luar biasa, ngos-ngosan. Keringat bercucuran.

Mas Darwis belum pernah sebelumnya merasakan hal yang seberat ini, apalagi diiringi dengan kepala keliyengan.

Minggu, 29 September 2013 pagi, ia bersama istrinya menuju ke rumah sakit Siloam, dekat pantai Losari, meskipun ada rumah sakit yang lebih dekat pada waktu itu.

Di hari itu, dokter spesialis banyak yang libur, kemudian ia menemui dokter umum dan sesuai dengan harapan, beliau menyarankan Mas Darwis untuk menjalankan medical check up.

Setelah diberikan surat pengantar dan beberapa vitamin, serta obat sesak nafas untuk jaga-jaga, ia kemudian kembali ke penginapan.

Senin, 30 September 2013, keringat bercucuran. Kali ini bergerak kembali menuju Siloam Hospital untuk bersiap melakukan MCU. Sesekali merasa kepayahan, sesak, keliyengan, terasa berat, tenggorokan mengganjal, denyut di dada nyut-nyutan. Panik, cemas, dan belum menyadari kalau ini adalah anxiety.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes urin, darah, detak jantung, faal paru, dan rontgen dada.

2 hari kemudian, yaitu Rabu, 2 Oktober 2013. Mas Darwis mengambil beberapa hasil tes kemudian dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Dan, hasilnya adalah:

  • Jantung normal.
  • Ginjal normal.
  • Paru-paru normal.
  • Liver masih dalam batas toleransi (berlemak karena gemuk).

Baik, apa yang dikatakan dokter? Beliau menyampaikan kalau Mas Darwis dalam keadaan:

  1. Stres / terlalu banyak berpikir berat
  2. Kelelahan

2 jawaban kunci itu akhirnya menjadi hal vital yang memang harus dipahami selama proses pengobatan dan penyembuhan berlangsung.

Kedua hal di atas dapat memicu asam lambung dan ketika sampai pada kerongkongan secara terus-menerus akan menyebabkan iritasi di area tersebut, sehingga perasaan tenggorokan tertekan, suara parau, serta kesulitan bernapas dapat diakibatkan oleh asam lambung yang naik.

Beberapa tes kemudian untuk menguatkan diagnosis adalah dengan melakukan 2 prosedur, yaitu ENT di bagian THT dan X-Ray dengan meminum cairan barium (berwarna putih).

Dari sejumlah obat-obatan yang diresepkan antara lain pemblok asam, antibiotik, pengencer dahak, dan vitamin hati. Jadi ketika dijumlahkan dari perawatan Jayapura dan Makassar, obat-obatannya berjumlah belasan macam.

Selama 2 minggu terakhir, dalam catatan Mas Darwis, sudah mengeluarkan biaya lebih dari 11 juta rupiah.

3 Bulan Kemudian, Sebuah Harapan Baru

Setelah kepulangannya dari Makassar ke Jayapura pada awal Oktober 2013, Mas Darwis masih merasakan sejumlah keluhan seperti suka lemas, mudah berkeringat, gampang capek.

Setelah kepulangannya itu, ia mengumpulkan beberapa data tentang penyakit yang dialami. Dan baru sadar bahwa ia pernah mengalaminya di tahun 2011 dan 2007. Jadi ini sebenarnya kejadian berulang di tahun 2013 dan ia anggap sebagai akumulasi, karena pada tahun itu keadaannya lebih berat.

Jika dirangkum menjadi satu, maka sejumlah keluhan yang akan dialami oleh penderita GERD, gejalanya antara lain:

  1. Masalah pada denyut nadi, terutama pada masalah ritme.
  2. Heartburn, perasaan panas dan tertusuk-tusuk dari dada, bahkan tembus ke bagian punggung.
  3. Suara parau.
  4. Nafas berbunyi.
  5. Tenggorokan serak dan berat.
  6. Iritasi pada area kerongkongan / tenggorokan.
  7. Pinggang sakit, terutama setelah meminum sejumlah obat. Rasa sakit tak tertahankan dari posisi berbaring ke duduk, dan dari duduk ke berdiri. Ini bisa jadi bukan bagian dari GERD, namun bersinggungan dengan konsumsi obat-obatan yang mengganggu kinerja ginjal.
  8. Betis bagian bawah terasa nyeri.
  9. Tangan dan kaki kram.
  10. Perasaan ingin mengeluarkan lendir atau dahak dari tenggorokan. Setelah keluar, menjadi lega.
  11. Kepala keliyengan, terasa berat, menimbulkan perasaan panik dan cemas (anxiety).
  12. Perasaan ingin muntah, tetapi tidak muntah.
  13. Mudah lelah, tidak bisa mengangkat beban terlalu berat, karena akan berkeringat, terutama bagian kepala dan tangan.
  14. Tidak bisa makan terlalu banyak. Di awal waktu, ia hanya bisa menghabiskan 2 sendok makan saja, perut terasa penuh, begah, dan sesak. Ini menjadi masalah umum karena penderita GERD & anxiety akan menjadi lebih kurus.
  15. Bentuk feses menjadi tidak normal, sesekali muncul gumpalan berwarna mirip darah pada fesesnya.
  16. Gairah seks menurun.
  17. Tidak bisa tidur nyenyak, tidak bisa bernapas dengan lega, dan parno.

Satu hal lagi yang pernah dokter sampaikan kepada istrinya setelah kembali dari Makassar ke Jayapura. Pada saat kunjungan kembali ke rumah sakit di Jayapura ketika penyakitnya kambuh, dokter membisikkan kepada istri Mas Darwis agar membawa juga ke psikolog / psikater.

Tapi ia tidak mau. Ia akan menjalani terapinya sendiri untuk mengatasi rasa parno dan paniknya itu. Karena ia yakin, anxiety dapat dikendalikan jika pikiran bisa dikendalikan.

Kebiasaan Buruk yang Pernah Dilakukan

Menjadi sadar setelah pencariannya yang begitu panjang untuk mencoba akrab dengan penyakit GERD & anxiety ini sudah menjadi makanan sehari-harinya pada waktu itu.

Sehingga ia perlu melakukan sejumlah identifikasi dan tracking apa-apa saja yang penjadi penyebab penyakit duo bersatu ini, yaitu GERD dan anxiety.

Dalam bentuk fisik:

  1. Berbaring selepas makan berat. Ini adalah permasalahan yang serius dan sering dihadapi oleh seseorang dengan GERD dan Anxiety. Dampak buruknya jika dilakukan setiap kali dan setiap hari, beresiko mengganggu kinerja katup LES. Ketika berada pada posisi tidur, dimungkinkan asam beserta isi makanan yang berada di dalam lambung akan naik ke atas melewati katup lower esophageal sphincter tersebut, sehingga akan naik hingga ke jalur kerongkongan. Jika kejadian ini sering terjadi, maka bisa terjadi iritasi di area kerongkongan dan menyedapkan radang. Kejadian seperti kesusahan bernafas, kesusahan menelan makanan, bahkan suara parau bisa berdampak akibat kejadian ini.
  2. Terlalu banyak makan. Inilah jika berlebihan, dampaknya akan buruk. Dengan makan terlalu banyak, kerja lambung juga akan semakin berat, sehingga lambung akan memproduksi asam lebih banyak. Jika kebiasaan nomor 1 dan 2 digabung, maka risiko terkena Gastroesophageal Reflux Disease alias GERD semakin besar.
  3. Minum air dingin / es selepas makan berat. Minuman dingin akan berdampak pada turunnya suhu lambung. Saat suhu lambung tidak normal, tentu akan mengganggu kinerjanya, bahkan berhenti bekerja dalam beberapa waktu hingga suhunya normal kembali.
  4. Makan-makanan terlalu pedas. Sebenarnya adalah makan-makanan yang memicu asam lambung. Makanan pedas merupakan salah satu yang akan memicu produksi asam lambung berlebih. Ini akan menjadi efek domino. Kebiasaan Mas Darwis pada waktu itu adalah makan pedas, bahkan pernah 30 cabai dalam sekali makan.
  5. Jarang atau tidak olahraga sama sekali. Olahraga akan membuat peredaran darah menjadi lancar. Lancarnya peredaran darah akan berdampak pada kinerja organ-organ tubuh yang baik.

Dalam bentuk psikis

Ini yang kemudian dikaitkan dengan permasalahan psikosomatis, gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Urutan yang seringkali terjadi adalah dari permasalahan gejala GERD yang berulang, timbul gangguan kecemasan / anxiety.

Urutan ini menjadi sebuah keumuman mengingat banyak sekali orang-orang yang berkonsultasi dengan Mas Darwis memiliki kecenderungan seperti:

  1. Repeat questions, pertanyaan yang berulang-ulang. Dalam 1 hari, ada sejumlah pertanyaan yang sama diajukan berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa yang ia alami adalah benar adanya.
  2. Mengonfirmasi keadaan berkali-kali, untuk mencocokkan apakah partner yang diajak bicara mengalami hal yang sama. Ketika orang yang ditanya mengalami hal serupa yang dialami oleh si penanya, maka penanya yang sebagian besar menderita GERD & Anxiety merasakan kelegaan dan ketenangan.
  3. Seringnya menyampaikan perasaan takut mati tiba-tiba.
  4. Ketika terjadi kepanikan dan gejala GERD melanda, maka penderita akan menghubungi partner diskusi.

Paling tidak terdapat 4 hal umum bagi penderita GERD sekaligus mengalami anxiety. Disamping itu, kondisi-kondisi seperti yang dijelaskan sebelumnya juga bisa terjadi.

Untuk gangguan kecemasan yang bersifat umum, biasanya seseorang akan merasa mudah sekali lelah, perasaan gelisah yang berkelanjutan, sulit dalam berkonsentrasi, gampang tersinggung, namun ada juga yang menyembunyikan rasa tersinggungnya, sehingga dapat memperparah kondisi dan keadaan kejiwaannya.

Bagi penderita GERD yang juga terpapar anxiety disorder akan sulit mengendalikan perasaan khawatirnya. Tidak jarang juga yang melaporkan terkena kram otot (sudah dijelaskan di atas), termasuk gangguan tidur.

Selain itu, orang-orang dengan penyakit GERD yang disertai dengan gangguan kecemasan juga sangat berpotensi mengalami gangguan panik seperti perasaan gelisah yang berkepanjangan, memikirkan masa depan yang dipikirnya suram, detak jantung berdebar-debar, nafas terengah-engah.

Adapula yang sampai bercucuran keringat, tangan dan kaki terasa kesemutan dan kram, otot tegang, dan sulit mengendalikan rasa takut dan cemas.

Artinya, dari paparan cerita di atas, Mas Darwis sudah mengalami kondisi serupa, GERD & anxiety.

Jadi, cara yang tepat untuk mengatasi masalah psikis tersebut adalah dengan menghilangkan perasaan-perasaan negatif yang ada di dalam pikiran, termasuk hal-hal yang menyebabkan depresi pada diri. Yuk kita simak pada bagian berikutnya.

3P, Triple Pattern yang menjadi langganan

Setiap orang yang berhasil paling tidak mereduksi gejala GERD dan Anxiety, hampir seluruhnya mengenal 3P, yaitu pola makan, pola pikir, dan pola hidup. Ya, ini sudah menjadi langganan para konsultan atau senior alias mastah yang bertahun-tahun berjibaku dengan penyakit ini.

Seolah 3P ini sudah menjadi propaganda dan agitasinya GERD mania. Bahkan di forum-forum seperti GIHM dan GAI, 3P ini seolah menjadi menu khusus “deradikalisasi” GERD & anxiety.

Cara yang benar mengobati GERD & Anxiety
3P dalam Skala Prioritas Pengobatan GERD & Anxiety

Dari ketiga konsep tersebut, ada sejumlah perbedaan paham. Bahasa yang lebih serius adalah madzab :). Ini terkait dengan metode, cara, atau mekanisme, termasuk skala prioritas.

Baik, jadi mana yang harus didahulukan? Apakah semua dijalankan beriringan? Atau ada skala prioritas tertentu?

Anxiety-anxiety dahulu, GERD – GERD kemudian

Menurut pengalaman Mas Darwis, meskipun GERD anxiety berjalan secara beriringan menyerang seseorang, hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan menjadi skala prioritas adalah anxiety-nya terlebih dahulu.

Cara mengatasi anxiety itu susah-susah gampang. Ini mungkin akan berbeda dari setiap orang yang menderitanya.

Mengapa anxiety harus dibunuh terlebih dahulu? Karena jika GERD teratasi dahulu sebelum anxiety selesai, maka kejadian berulang akan sangat tinggi risikonya. Di kajian manapun menjelaskan, stres (termasuk perasaan cemas dan panik yang berkelanjutan) akan meningkatkan produksi asam lambung. Sampai di sini bisa dipahami?

Jadi, jika diurutkan dari skala prioritas, akan membentuk:

POLA PIKIR –> (POLA HIDUP + POLA MAKAN)

Yuk kita bahas bagaimana saran-saran yang bisa dijadikan pengalaman berdasarkan kajian panjang yang dilakukan Mas Darwis ini.

POLA PIKIR, Juru Kunci Terbuka dan Tertutupnya Anxiety

Setelah mengetahui berbagai penyebab atas kebiasaan atau habit yang dipaparkan pada sesi sebelumnya, pengaturan pola pikir dalam mengatasi GERD dan anxiety ini menjadi skala prioritas menurut Mas Darwis.

Bagaimana mengolah pola pikir yang baik untuk mengatasi kecemasan dan panik yang berlebihan?

IKHLAS. Ini menjadi permulaan dan harus dimanifestasikan secara menyeluruh, bahwa keadaan yang Anda hadapi saat ini adalah atas izin ilahi. Yakini jika hal ini merupakan ujian atau cobaan. Maka, perasaan ikhlas akan menghantarkan diri pada kesabaran.

Sabar dan ikhlas akan membuka aura Anda untuk lebih mendalami siapa sebenarnya Anda, mengapa Anda hidup di dunia ini, manfaat apa yang sudah Anda lakukan untuk keluarga, orang-orang, dan lingkungan di sekitar Anda.

Bagi seorang muslim, perasaan ikhlas dapat dimanifestasikan dalam sejumlah cara, salah satunya adalah komunikasi dengan Sang Khalik, Allah Subhanahu wataΓ‘la. Contoh komunikasi tersebut antara lain dalam bentuk sholat.

Kekhusyukan dalam sholat akan membuat perasaan menjadi lebih tenang, rileks, dan perasaan berserah diri.

Diawali dengan ikhlas, dimanifestasikan dalam sabar dan sholat (kegiatan ibadah), doa meminta jalan kesembuhan, berlanjut dengan memasrahkan diri.

Bagi non muslim, polanya mungkin sama, namun caranya berbeda.

Komunikasi spesifik dengan Sang Pencipta. Poin kedua setelah ikhlas adalah berkomunikasi dengan Sang Khalik untuk bersyukur dan berdoa memohon kesembuhan.

Bagi seorang muslim, komunikasi verbal dapat berupa:

  1. Ya Allah, terima kasih engkau telah menitipkan menyakit ini kepadaku. Jadikan aku lebih sabar menghadapinya dan buat aku semakin dekat dengan-Mu.
  2. Alhamdulillah, puji syukur kusampaikan kepada-Mu. Aku terima penyakit ini yang Kau kehendakkan kepadaku, berikan aku kesabaran, dan tunjukkanlah aku jalan menuju kesembuhan, Ya Allah, Ya Rahman, ya Rahiim.

Penting untuk dipahami bahwa penyakit yang kita derita itu tentunya atas kehendak dan izin dari-Nya. Maka sesuatu yang paling menenangkan bagi kita adalah dengan menerima, ya menerima, menunjukkan kepasrahan, kelemahan, dan perasaan yang menghamba. Ini akan sangat membantu dalam proses penyembuhan penyakit yang Anda derita, bahkan bukan hanya untuk GERD dan gangguan kecemasan saja. Tentunya cara di atas menjadi tidak berlaku bagi penganut atheis.

Jalankan hobi. Cara ketiga ini sangat cukup membantu mengobati rasa cemas dan panik. Ya, hobi. Jika Anda hobi menulis, luapkan dengan menulis, begitu juga dengan kegiatan alam seperti rekreasi ke pantai, berkebun, memancing, dan masih banyak lagi.

Jika Anda hobi kegiatan indoor seperti senam, ini juga bisa membantu (tentu hobi ini nanti akan terkait dengan bagian pola hidup).

Rileks. Tiap orang mungkin akan berbeda cara menggapai rileks ini. Ada yang dijalani dengan obat-obatan seperti obat penenang, adapula dengan cara non obat-obatan seperti meditasi seperti pada keterangan di atas, pijat, dan berendam air hangat misalnya.

Intinya, lakukan segala sesuatu yang positif untuk memperbaiki stres pikiran dan stres hati Anda. Perbaiki hubungan dengan Sang Pencipta dan perbaiki pula hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar.

Salah satu cara dalam mengontrol emosi adalah dengan berdzikir dan membaca kitab suci.

POLA HIDUP + POLA MAKAN

Karena sifatnya sama-sama fisik, maka pola hidup dan pola makan akan menjadi prioritas yang sama setelah mengutamakan pola pikir.

Saat ini Anda tidak sangat susah seperti yang Mas Darwis lakukan beberapa tahun lalu untuk mencari referensi tentang bagaimana cara menyembuhkan GERD dan anxiety berdasarkan pola hidup dan pola makan.

Beberapa pola hidup yang bisa Anda lakukan untuk mereduksi Gastroesophagus Reflux Disease (GERD) antara lain:

  1. Olahraga ringan. Ya, belum bisa melakukan yang berat-berat, karena umumnya orang dengan GERD meskipun fisiknya kelihatan baik-baik saja, sesungguhnya mereka lemah dan gampang capek. Warming up bisa menjadi terapi rutin untuk memperbaiki peredaran darah Anda, kegel dan push up ringan bisa dilakukan sebagai selingan.
  2. Hindari makanan berpengawet. Kurangi bahkan stop terlebih dahulu makanan kaleng atau cepat saji yang didalamnya terdapat pengawet. Kebiasaan ini seringkali dilakukan ketika kita hendah bepergian dan tidak membawa bekal dari rumah.
  3. Tidak minum air dingin setelah makan berat. Alasannya sudah disampaikan pada bagian awal postingan ini.
  4. Tidak segera tidur selepas makan. Waktu ideal yang dibutuhkan agar lambung menyelesaikan proses saat kita makan berat adalah 2 hingga 3 jam. Seperti pada penjelasan sebelumnya, ini akan mencegah asam lambung naik menuju kerongkongan.
  5. Porsi makan yang harus diperhatikan. Jangan makan berlebihan, jangan bebani lambung terlalu dalam. Makanlah sedikit-sedikit meskipun sering. Jika sarapan pagi Anda misalkan terdiri dari 9 sendok makan. Maka Anda bisa makan 3 kali hingga menjelang makan siang, misanya 3 sendok di jam 6, 3 sendok di jam 8, 3 sendok di jam 10. Tujuannya apa? Tentu memperingan kinerja lambung, dan membuatnya mengerjakan rutinitas yang normal.
  6. Jangan lupa sarapan. Bagi penderita GERD ini penting. Sarapan bisa mengurangi asam lambung yang kambuh-kambuhan di pagi hari. Lakukan dengan pola di atas. Jika Anda sedang berpuasa, pastikan saat sahur sudah mengkonsumsi makanan dan gizi yang cukup.
  7. Berhenti merokok. Wajib! Merokok akan menjadi serangan yang serius bagi penderita GERD, karena ia berpotensi menimbulkan peradangan di saluran pencernaan bagian atas dan tentu saja akan memperparah penyakit GERD Anda.
  8. Tinggikan posisi tidur Anda. Merujuk pada teori grafitasi, maka untuk mencegah asam lambung naik ketika lambung masih bekerja, tinggikan posisi kepala dan pundak Anda saat tidur.

8 hal tersebut menjadi dasar dan fundamental. gaya hidup diatas harus segera diubah dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian agar penyakit GERD Anda dapat segera teratasi dengan baik.

BERHENTILAH DAN MENYERAHLAH DULU

Langsung saja:

  1. Ubi-ubian.
  2. Gorengan dan makanan berminyak lainnya.
  3. Teh dan kopi.
  4. Mie instan.
  5. Kacang tanah dan beberapa jenis kacang-kacangan lainnya.
  6. Kubis dan kol.
  7. Santan.
  8. Cokelat.
  9. Makanan berlemak.
  10. Alkohol.
  11. Rokok.
  12. Cabai dan makanan pedas lainnya.
  13. Jeruk.
  14. Makanan berpengawet.
  15. Keju.
  16. Es dan makanan atau minuman dingin lainnya.

Dalam 3 bulan pertama masa perawatan, disarankan stop makanan dan minuman di atas dan sejenisnya.

Jika Anda bukan perokok, maka Anda harus menghindari teman atau orang-orang yang merokok di dekat Anda. Perokok pasif lebih berisiko.

PENGOBATAN ALAMIAH

Pengobatan alami untuk penyakit GERD. Artinya obat-obatan ini banyak berasal dari alam. Mas Darwis sendiri sudah bertekad pada waktu itu untuk menghentikan obat-obatan kimia dalam proses penyembuhannya, terutama di masa-masa kritis 3 bulan pertama.

Tentu dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada dokter, peralatan medis, dan obat-obatan kimia. Setiap orang mungkin akan mengalami kondisi yang berbeda dan metode tidak sama. Namun, ia telah membuktikan terdapat perbaikan terhadap kondisi GERD yang dialaminya pada waktu itu.

Berikut beberapa hal yang dilakukan yang menjadi kebiasaan setiap hari, terutapa pada masa 3 bulan pertama.

  1. Berkumur-kumur dengan air garam. Tenggorokan dan kerongkongan merasa membaik, serta ganjalan berkurang setelah berkali-kali kumur air garam. Dengan melakukan kumur air garam, bakteri di sekitar mulut dan kerongkongan juga bisa dibasmi dengan baik.
  2. Apel, menjadi menu wajib selama masa penyembuhan. Varian apel Malang sangat disarankan (setelah melakukan coba-coba dengan jenis lain). 2 hingga 3 apel ukuran besar dalam sehari. Bisa dimakan sebelum atau sesudah makan. Namun lebih afdol dikonsumsi sebelum makan, terutama pada pagi hari. Meskipun rasanya asam di lidah, buah apel justru dapat membentuk lapisan basa di lambung sehingga dengan manfaat tersebut diharapkan dapat menyeimbangkan kondisi pH di dalam perut. Pagi sebelum sarapan, siang sebelum makan, dan malam sebelum tidur.
  3. Susu murni (bukan susu formula). Minum susu, setelah makan, atau beberapa waktu setelah makan, beri jarak waktu yang agak panjang setelah makan buah. Susu murni dapat menetralkan asam yang ada di dalam lambung dan melancarkan proses pencernaan. Di 3 bulan pertama, paling tidak minum susu 2 kali, di pagi dan sore atau malam hari. Produk yang direkomendasikan adalah Bear Brand.
  4. Sari Temulawak. Pada saat kita mengalami stres atau depresi, liver atau hati akan melepaskan zat dan menyebabkan naiknya kadar asam dalam lambung kita. Temulawak merupakan tumbuhan rimpang-rimpangan yang mempunyai segudang manfaat, salah satunya punya peran untuk menetralkan asam lambung. Pada masa penyembuhan, paling tidak minum temulawak 2 kali sehari. Produk yang direkomendasikan adalah Herbadrink Sari Temulawak.
  5. Minum air putih hangat yang cukup. Di paragraf awal ketika Mas Darwis melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, kemudian gejala GERD nya kambuh, ia meminta kepada awak kabin untuk membawakannya air putih hangat. Ini juga bisa menjadi tips yang bisa diikuti oleh Anda saat bepergian melalui jalur udara. Jika Anda menggunakan layanan penerbangan LCC, Anda bisa membawanya dari rumah dalam bentuk termos kecil. Air hangat akan memberikan efek menenangkan dan merenggangkan otot-otot yang kaku di sekitaran jalur atau saluran pencernaan, sehingga akan memberikan efek nyaman. Air putih juga dapat mengurangi tingkat keasaman di lambung kita. Yang perlu diperhatikan adalah untuk tidak terlalu banyak minum air putih di malam hari, terutama saat menjelang tidur. Minum air hangat justru sangat baik setelah Anda bangun tidur di pagi hari.
  6. Jintan hitam (habbatussauda). Mengingat peristiwa di tahun 2011, maka Mas Darwis memutuskan untuk terapi pengobatan dengan jintan hitam. 3 kali sehari, masing-masing 2 kapsul. Setelah sarapan, sehabis makan siang, dan sebelum tidur malam. Merk yang direkomendasikan adalah Habbatus sauda Kurma Ajwa.

6 terapi di atas akan sangat berefek di 3 bulan pertama saat proses penyembuhan.

4 tahapan penting yang akan dilewati

MASA SULIT (Tahap ke-1)

Saat makan, tiba-tiba merasakan bernapas yang sangat berat, perut terasa penuh. Pada kondisi ini, perhatikan rekomendasi makanan dan minuman yang menjadi saran dan pantangan.

Jangan dipaksakan makan 1 porsi piring jika terjadi kendala seperti di atas. Ikuti saran gaya hidup yang sudah dibahas pada bagian pertengahan artikel ini, yaitu 3 sendok di jam pertama, 3 sendok di 2 jam berikutnya, dan 3 sendok lagi di 2 jam setelahnya lagi.

Jika masih belum kuat, pakai nutrisi lain, yaitu susu murni setelah 3 sendok pertama.

Mas Darwis sendiri beberapa kali makan dengan 2 butir telor dan 1 kaleng susu Bear Brand. Siangnya makan bubur dan 1 kaleng susu yang sama. Pagi dan siang bisa ditukar.

Sore / malam juga bubur. Pada kondisi yang berat ini, berat badan Mas Darwis turun hingga 6 kg. Tahap 1 ini dijalankan setelah penyakit berjalan dalam 2 bulan, karena metode ini baru diketemukannya dengan sejumlah riset secara mandiri.

Dalam 1-2 bulan, Insya Alloh akan menunjukkan perubahan membaik, dan bisa melewati masa ini.

MASA SULIT SETENGAH TERLEWATI (Tahap ke-2)

Setelah melewati tahap pertama, maka nasi boleh dicoba, namun nasi dengan karakter yang lebih lembut. Ya ambil tengah-tengah antara nasi pulen dan bubur.

Porsi masih belum bisa seporsi penuh, paling tidak 4 hingga 7 sendok. Lauknya minimalis, rebusan telor, tempe, dan tahu, serta ikan yang disayur. Susu masih dikonsumsi, pagi dan malam hari.

Santan masih harus dihindari, termasuk nasi goreng dan mie-mie an. Temulawak dan habbatussauda masih dijadikan andalan dalam terapi penyembuhan.

Anda dapat menyesuaikan diri pada tahap ke-2 ini. Ada yang melewatinya selama 1 bulan, ada juga yang dalam hitungan minggu.

MASA SULIT TERLEWATI (Tahap ke-3)

Pada tahapan ini, lampu bahaya alias lampu merah sudah mati, kini berganti lampu kuning. Sudah mulai pelan-pelan menuju keadaan normal, temulawak bisa dikurangi 2 kali sehari. Sesekali makan mie, namun masih terasa sesak, maka dihentikan, 1-2 minggu kemudian bisa coba mie lagi. Begitu dicoba-coba pelan-pelang dari pantangan-pantangan yang sebelumnya dilarang. Dari semua pantangan di atas, strongly recommended Anda harus meninggalkan rokok dan alkohol.

MASA BAHAGIA (Tahap ke-4)

Rata-rata 3 tahapan di atas dijalani selama 3 bulan. Tiap orang bisa berbeda. tapi kalau Anda lulus dalam 3 bulan, maka predikatnya adalah cumlaude πŸ™‚

Di bagian ini, Anda sudah bisa memulai kegiatan rutin dan makan-makanan seperti orang lain makan pada umumnya, seperti sambal, santan, es, gorengan, cokelat. Lakukan secara bertahap.

Tapi tetap harus diperhatikan, bahwa pantangan-pantangan di atas tetap menjadi prioritas utama untuk dihindari, paling tidak dikurangi porsinya.

Dengan demikian, selesailah pembahasan kita tentang bagaimana treatment dan perawatan untuk menyembuhkan penyakit GERD dan anxietas ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Sangkalan / Sanggahan

Metode yang dipaparkan di atas adalah tidak paten. Setiap orang bisa jadi akan mengalami hal dan hasil yang berbeda selama menjalani pengobatan dan perubahan gaya hidup. Tetapi dari sejumlah orang dengan GERD yang berkonsultasi dengan Mas Darwis, banyak yang merasakan perubahan positif menuju kesembuhan atau berkurangnya gejala yang dirasakan.

45 thoughts on “GERD & Anxiety, Sebuah Kisah dan Pengalaman Panjang menuju Sembuh

  1. saya ingin sekali berkonsultasi dengan PAk Darwis karena saat ini saya sedang berjuang melawan GERD.
    Thank you.

    Alita

    1. Halo Mbak Novi, metode yang saya lakukan umumnya efektif untuk banyak penderita, namun ada beberapa yang ndak cocok. Jadi, Mbak bisa pilih sesuai dengan reaksi tubuh Mbak Novi.

      1. Saya juga sama. Bahkan saya tdak tau kalo ternyata saya juga menderita gerd. Karna sebelumnya saya langsung ke psikiater. Dikasih elizac sama merlopam. Sebulan lebih saya konsul awalnya saat masih rutin minum obat saya baik2 saja. Tapi lama kelamaan saat turun dosis itu makin menjadi. Sampe akhirnya puasa, makin ada2 aja, masih suka kambuh anxietynya, makan ga nafsu, pas buka mnum air seteguk lgsg kenyang. Smp skrg blm bsa k dokter karna corona. Dan akhrnya sblm baca halaman ini saya dibuatin sama mama temulawak. Cuma makanan aja yg dikurangin dkit2 ga sampe kenyang. Alhamdulillah seminggu lebih diawal itu ga kambuh anxietynya. Tp tetap makan goreng2, lama2 anxietynya mncul lagi. Sy juga sudah ga mau minum obat dokter lagi. Gimana donggg tolong sarannya mas

  2. Terima kasih pak darwis, karena suasana kepanikan virus corona, pada bulan april saya memiliki stress yang tinggi yang mengakibatkan saya mudah sesak nafas, smpai akhirnya sya cek paru2 tnyata aman, rasa gelisah muncul lagi pada awal april, kegelisahan dan stress saya mengakibatkan asam lambung saya naik dan merasa nyeri dada atau heartburn, awal sya kira2 penyakit jantung tetapi, stlah bberapa hari melihat gejala2 aneh yg mirip derg, saya merasa ini gerd karena setiap sesudah makan bnyak, ulu hati dan dada saya terasa nyeri, tapi akhirnya saya coba atur pola makan dan mnum promag scara teratur mulai ada perubahan mski sdikit, dan rasa panik makin mengahntui karena tidak smbuh2, akhirnya saya mncoba mencari artikel mengenai gerd, dan saya menemukan artikel pak darwis, dan keeprcayaan diri saya mulai meningkat lagi dan dan akan mencoba metode pak darwis berikan, terima kasih atas artikel yg diberikan pak, GBU

  3. Assalammalaikum pak.. Apa boleh minta kontak nya buat konsultasi?? Saya udah 5 tahun kambuhan sakit beginianπŸ™

  4. Saya juga sama. Bahkan saya tdak tau kalo ternyata saya juga menderita gerd. Karna sebelumnya saya langsung ke psikiater. Dikasih elizac sama merlopam. Sebulan lebih saya konsul awalnya saat masih rutin minum obat saya baik2 saja. Tapi lama kelamaan saat turun dosis itu makin menjadi. Sampe akhirnya puasa, makin ada2 aja, masih suka kambuh anxietynya, makan ga nafsu, pas buka mnum air seteguk lgsg kenyang. Smp skrg blm bsa k dokter karna corona. Dan akhrnya sblm baca halaman ini saya dibuatin sama mama temulawak. Cuma makanan aja yg dikurangin dkit2 ga sampe kenyang. Alhamdulillah seminggu lebih diawal itu ga kambuh anxietynya. Tp tetap makan goreng2, lama2 anxietynya mncul lagi. Sy juga sudah ga mau minum obat dokter lagi. Gimana donggg tolong sarannya mas

  5. Mas minta solusinya dong saya udah ngalamin susah nafas, dada terasa sesak kayak ada yang mengganjal, terus d kerongkongan kayak mampet mas dan itu saya rasakan setiap harinya. Pantang udah sya jaga untuk makanan. Hanya pola pikir pola makan dan pola hidup yang masih harus sya rubah. Dan klok untuk temulawak ya klok mau buat sendiri itu di parut ato diapakan mas? Solanya klok untuk bli kemasan sy Mash blm brani krna terlalu banyak kimianya. Mohon solusinya mas. Tenggorokan serasa kyk kecekik

  6. Assalamualaikum pak, sebelumnya terima kasih atas artikelnya, sangat bermanfaat. Benar kata Bapak. Kalo saya ngulik artikel pengalaman mereka yang GERD saya jd agak tenang krn merasa tidak sendiri.

    Saya ingin bertanya, apa ketika pak Darwis sembuh dari GERD, kerongkongan Bapak masih terasa seperti tercekik?

    Saya (21 thn) ingin berbagi pengalaman saya sedikit. Saya kena GERD baru bgt tahun ini. Sampai sejauh ini saya belom sepenuhnya pulih. Tapi saya rasa gak ada salahnya kl berbagi.

    Sebelumnya saya hanya kena Maag, tapi baru-baru ini selama masa PSBB saya mengalami GERD. Kalau ditelaah lagi, memang pola tidur saya selama PSBB semakin memburuk. Saya tidur setelah subuh, bangun pas dzuhur, makan jg tidak teratur, ditambah tugas kuliah yang menumpuk dan menuntut saya untuk begadang. Tp sebelumnya, memang sih pola makan saya jg sudah buruk, jarang berolahraga, berat badan saya berlebih pula.

    Masa saya mengalami GERD dibagi menjadi beberapa tahap. Yang pertama dimulai dari saya yang tiba-tiba merasa sesak, sakit perut, dan tangan memerah. Ini terjadi sekitar pertengahan Maret tahun ini, sebelum PSBB diberlakukan. Kejadiannya Sabtu pagi, tepat setelah saya selesai sarapan dengan salad dan udang. Saya pun langsung ke klinik 24 jam, saat itu dokternya menguji dengan menekan perut saya. Dia bertanya apa rasanya sakit. Saya menjawab iya. Jujur perut saya tidak pernah merasa sesakit itu ketika ditekan oleh dokter saat diperiksa. Saya jg bilang kl saya sedang diet, tidak makan nasi. Hanya makan salad, yoghurt, dan ayam. Si Dokter akhirnya menceramahi saya agar jgn diet kalau belum tau ukuran diri sendiri. Saat itu beliau memberikan saya obat lambung dan alergi (iya saya alergi udang) lalu saya diperintah untuk kembali mengkonsumsi nasi. Setelah minum obat, rasanya alhamdulillah membaik. Rasanya saya kembali lega. Tapi bandelnya saya, saya tetap memilih tidak mengkonsumsi nasi.

    Dua hari kemudian, Kampus saya mulai menerapkan SFH. Saat itu belom PSBB kayaknya. SFH justru membuat tugas kuliah saya semakin banyak tiap minggu. Belum lagi seperti yang saya ceritakan sebelumnya pola hidup saya tidak sehat. Begadang, makan tidak teratur, seringnya makan tengah malam langsung tidur, tidak olahraga, dsb. Ditambah banyak sekali berita tidak menyenangkan kala itu, secara tidak sadar mungkin membuat rasa cemas saya membludak.

    Tahap ini kemudian berlanjut menjadi lbh buruk. Saya ingat betul hari itu hari Senin, sudah menjelang akhir Maret. Pagi-pagi sekali saya mendengar kabar kurang menyenangkan yg membuat rasa cemas saya memburuk dan agak sesak. Ditambah hari itu saya telat makan (baru sarapan dengan bihun goreng) karena harus ikut kuliah online dan membersihkan rumah. Sore harinya baru sempet makan lagi. Bodohnya saat itu saya makan ayam goreng KFC Hot Lime yang pedas dan asam! Yup, bisa dibayangkan malamnya saya langsung merasa sesak. Saya ini orangnya suka nyimpen masalah sendiri, jadi malem itu saya belom bilang ke orang tua. Saya masih struggling dengan tugas kampus. Baru bisa tidur sekitar jam 4 an, itupun kepala saya dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. Rasa sesak menghantui saya kembali. Keesokannya saya masih sesak dan baru bisa bilang ke keluarga saat sore hari. Bapak saya mencoba memijat, saat itu ketika kaki saya dipijat ulu hati saya rasanya sakitttt. Kedua org tua saya termasuk kakak saya (yg sudah berpengalaman dengan lambung) akhirnya berpendapat bahwa maagh saya kambuh. Setelah dipijat rasanya saya jd agak membaik. Sejak sore itu saya kembali mencoba makan nasi. Mengurungkan terlebih dahulu diet saya.

    Sampai akhir April (alias jelang puasa) rasanya tubuh saya perlahan kembali normal. Meski masih ada rasa gak enak jg di sekitar perut + lemas. Waktu itu saya belum mengubah jam tidur. Ditambah banyak tugas kuliah dan problemnya yg bercabang. Udh gitu masih aja saya tidurnya setelah subuh dan bangunnya pas dzuhur. Masih pula makannya gak teratur, kebanyakan makan gorengan, pedas, minum yoghurt dan minum es. Sering tidur setelah makan. Pokoknya bandel bgt.

    Kalo ga salah beberapa hari saat puasa, saya kembali datang lagi ke klinik 24 jam. Kali ini keluhannya karena sakit perut. Sakit banget, rasanya mules tp kayak bukan mau BAB. Saya udh minum promagh, gazero, bahkan entrostop tp belum jg membaik. Bapak saya juga sudah memijat kaki saya seperti sebelumnya. Meski merasa enakan, tp itu cmn bertahan beberapa jam. Saat dibawa ke 24 jam, baru diketahui tensi saya tinggi dan dibilang jg kalo saya ini asam lambungnya naik. Saya pun kembali dikasih obat lambung. Tp hmmmm lagi-lagi saya dihantam dengan tugas kuliah. Banyak sekali deadlinenya. Karena bentrok jg sama jam sahur, tidur saya masih kacau bgt. Akibatnya kepala saya pusing.

    Suatu malam setelah meeting online dengan teman kuliah, kepala saya tiba-tiba sangat pusing. Karena esok paginya ada janji meeting online lagi, saya berusaha tidur. Kepala saya masih pusing bgt gatau knp, jam 1 pagi lalu saya minum procold. Biasanya saya cocok minum obat ini, langsung tidur dan pusing hilang. Tp entah kenapa pagi itu saya ga bisa tidur. Bahkan setelah sahur dan subuh. Parahnya sekitar jam 7 pagi jantung saya berdebar lbh cepat dari biasanya, perut saya sakit, dan you know what makes me more sad… Kaki dan tangan saya goyang sendiri. Saya paksain tidur pagi itu, udh bodoamatan sama meeting pagi. Akhirnya alhamdulillah saya bisa tidur sekitar jam 9 pagi dan bangun jam 12 siang. Itu pun bkn tidur yg berkualitas krn saya sering kebangun dan kaget sendiri selama tidur. Khawatir, panik, pusing, pokoknya semua jd satu. Saya masih nahan gak cerita ke keluarga. Baru ketika sore menjelang berbuka, ibu saya yg pertama ngeh. Dia heran kok tangan saya goyang sendiri. Saat itu saya udh gak tahan lagi, air mata saya udh gak terbendung. Ngucur, nangis, lalu cerita. Saat itu jg krn belom tau soal lambung, saya masih bandel makan ayam bumbu rujak yg agak pedes buat buka. Saya kembali ke klinik 24 jam. Tekanan darah saya saat itu alhamdulillah normal. Dikasih obat multivitamin, radang, sama lambung. Seharian itu saya panik bgt. Sampe pas solat taraweh, saya ga bisa fokus gara-gara tangan saya goyang sendiri. Waktu itu jg muka saya goyang sendiri. Setelah solat saya nangis, keluarga saya pun menenangkan. Tp emang sih, meski agak tenangan saya masih blm bisa tidur. Waktu itu otak saya masih dipenuhi tentang tremor ini. Selama fase tremor saya mencoba tidur setelah taraweh, biar pas sahur saya segar lagi. Meski cemas, panik, takut, tp tahap ini masih belom puncaknya…

    Nah puncaknya ini terjadi di tengah bulan puasa. Setelah saya melupakan tremor (tremor saya sudah berkurang tp masih terjadi hanya di tangan kiri), saya struggling buat tidur. Saya ingat betul sehari sebelum puncaknya, tubuh saya rasanya tenang dan normal. Rasanya udh lama ga kembali ke diri saya yg seperti itu…

    Tapi Ya Allah emang saya bandel bgt. Saat tubuh enak kayak gitu, saya malah kembali begadang. Ditambah bbrp hari sebelumnya saya berani bgt makan ayam goreng taiwan dgn level pedes 3. Malamnya alias setelah buka puasa, tenggorokan saya seperti tercekik! Serius saya takut bgt saat itu. Ga pernah saya merasa seperti itu. Seperti mau ada yg keluar dari tenggorokan tp ga bisa keluar. Denyut di sekitar leher kembali berdetak cepat. Saat saya duduk di layar laptop untuk mengerjakan tugas, rasanya pun sesak. Dada dan perut rasanya panas. Jantung saya kembali berdetak agak cepat untuk beberapa saat. Rasanya itu adalah heartburn terdahsyat yg gapengen saya ulangi. Intinya malam itu saya gabisa tidur meski udh coba lepas hp dari jam 9 malam. Udah dikerokin oleh ibu saya, udh pula dipijiti oleh bapak saya. Tp tetep aja saya gabisa tidur. Meski rasanya ngantuk, begitu mau memejamkan mata rasanya seperti jantung saya mengecil dan saya takut kehilangan nafas. Pokoknya saya jg kagetan. Nafas saya pun kembali sesak. Saya cemas, panik, nangis dan udh pasrah. Paginya saya kembali dibawa ke klinik 24 jam. Dokternya adalah dokter yg sama saat saya alergi udang. Saya diceramahi dan dia jg bilang “GERD gabisa sembuh kalo gamau ngubah pola makan, pola hidup, meski udh makan obat tiap hari pun”. Btw saat itu tekanan darah saya kembali divonis tinggi, mungkin itu sebabnya saya merasa leher dan belakang kepala saya tegang. Akhirnya saya memutuskan ga puasa hari itu. Obatnya pun banyak bgt, ada sekitar 7 macem. Setelah ke klinik 24 jam, bapak saya mengajak saya mengitari daerah tempat tinggal saya untuk beli bubur. Rasanya perasaan saya agak lega setelah melihat dunia luar krn sudah lama tidak keluar.

    Hari itu saya baru bisa tidur sekitar jam 11 siang. Tentunya dibarengin kecemasan, nangis, dan rasa pasrah. Saya baru bangun sekitar jam 2 siang. Ternyata saya pun haid. Mungkin itu jg penyebab saya bener-bener lemes dan sakit perut. Tahap ini benar-benar terberat bagi saya. Buat tidur rasanya struggling banget. Pikiran kemana-mana. Rasanya saya iri bgt ngeliat teman-teman yg sehat-sehat aja. Mungkin krn darah tinggi juga, saya jd lemes dan tegang. Rasanya tuh keringetan dan mau pingsan kl berdiri. Sesak nafasnya jg parah. Saat seperti ini, family support emang penting bgt. Saya lbh rileks saat nonton video dr HP. Saya baru bisa tidur jam 4 pagi dan kebangun siang-siang. Rasanya emang enak setelah tidur. Tp lagi-lagi pikiran buruk menghantui. Saya takut jantung saya knp2 krn sesak yg ga pulih2.

    Akhirnya keluarga saya memutuskan membawa saya ke RS. Serius sih, waktu ke RS pikiran saya udh sedih bgt. Saya beneran sedih gatau knp. Hari itu saya dirontgent dan ambil darah serta dikasih obat lambung. Beberapa hari kemudian hasil rontgent saya keluar. Alhamdulillah hasilnya jantung dan paru-paru saya normal dan gak kenapa2. Cuman darah saya aja yg kelebihan beberapa persen, tp itupun masih batas normal. Kalian tau kan seharusnya saya lega, tp gatau knp saya masih panik dan cemas krn bertanya2 ada apa dgn saya. Btw begitu kelar konsultasi hasil rontgent, saya disarankan rapid test. Darah saya kembali diambil.
    Di saat menunggu hasil rapid test pikiran saya kembali ngawur ke mana-mana. Intinya saya banyak pikiran. Ditambah saya jg baru sadar, ketika saya mengeluarkan nafas, nafas saya kayak bergetar tersenggal2 (ngos2an) gitu. Panik bgt sumpah. Badan saya masih lemes, kaki pun jg jd berat.

    Begitu hasil rapid test saya keluar dan hasilnya negatif, saya sangat bersyukur. Dokternya bilang saya kena asam lambung, harus mengubah pola makan. Dan dia nanya apa di rmh melihara binatang. Saya emang pelihara hamster btw. Akhirnya saya jg divonis kena alergi debu. Kelar konsultasi saya udh agak lega. Mesi saya akui kerongkongan dan dada masih gaenak. Rasanya seperti tertekan setelah makan dan membuat saya takut buat makan hehe.

    Sekarang ini alhamdulillah udh bisa tidur. Keluhan saya untuk sekarang kerongkongan dan dada masih agak gaenak, kalo mengeluarkan nafas (hanya mengeluarkan) bunyi kayak tersenggal2, badan masih lemas, begah dan kaki berat. Oh ya saya jg masih tremor tangan kiri.

    Btw ada sedikit cerita yang lucu tp jg bodoh yg membuat saya menyesal sekali terkait GERD ini. Jd kalo ga salah bbrp bulan sebelumnya ketika saya naik KRL selepas pulang kuliah bersama teman, dia bertanya kepada saya apakah saya pernah kena sakit lambung. Saat itu saya bilang ga pernah dan mudah-mudahan aja ga kena. Teman saya bilang dia punya dan rasanya sangat melelahkan. Saat itu saya emg ngebatin “wow semuanya kena asam lambung… Saya doang yg enggak, saya kapan ya”. Itu bodoh sih. Bahkan walau hanya ngebatin, berhatilah teman-teman. Allah SWT memang Maha Mendengar.

    Saat sakit seperti ini yang saya sesalkan adalah apa yg sudah saya lakukan ketika sehat. Saya menyesal sekali memang krn tidak berusaha penuh untuk menghindari dosa sebelum saya sakit… Tp mudah-mudahan saya kuat menghadapi cobaan ini. Benar kata Pak Darwis, saya harus ikhlas krn semua di dunia ini hanyalah titipan dari-Nya. Mudah-mudahan saya bisa kembali pulih ke diri saya yg sehat wal afiat yaa πŸ™‚ Begitupun kalian yg GERD. Amiiin…

    Btw maaf bgt panjang komennya, krn saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg. Semangat bagi kita semua!

    Cheers!

      1. Beberapa kesamaan saya dengan mas Darwis :
        1. Cemas
        Ketakutan gak jelas, tiba2 takut mati, pesimis dengan masa depan.
        Ketenangan saya dapat Saat nonton Iron Man 3, Tony Stark kena serangan kecemasan / psikosomatik. Dari film itu saya dapat sedikit gambaran mengatasi cemas (saat itu saya belum kenal apa itu GERD dan Anxiety). Dan ketemu gak sengaja sama ceramah UAH kalau penyakit tidak ada hubungannya dengan mati. Manusia mati karena ajal, bukan sakit. Buktinya banyak penderita sakit yg lebih berat dari kita tapi masih hidup, bahkan sembuh.
        2. Kaki dingin mendadak
        3. Perasaan lapar mendadak sampai tubuh dingin gemetar
        4. Merasa terkena serangan jantung gara2 detaknya mendadak cepat dan tubuh mendadak lemas.
        5. Kesulitan menelan
        6. Kesulitan bernafas. Otot sekitar leher selalu tegang sehingga menekan saluran pernapasan (eksperimen sendiri, gak tau bener apa gak). Saya tangani dengan cara dikompres air hangat (pake botol) 10 menit, terus kompres air sejuk 10 menit, kemudian urut pelan otot sekitar bahu. Alhamdulillah tegangnya berkurang.
        7. Nonton GAGS dan Standup Comedy plus Crayon Shinchan. Sebenarnya saya gak tau kalau tontonan itu berefek pada gejala anxiety. Gak sengaja menemukannya gara2 mau mengalihkan fokus.
        8. Bekeria terlalu berat terutama pakerjaan yg menggunakan otak (pikiran). Saya penjual jasa skripsi pada waktu itu. Pola hidup gak jelas dan laptop 24/7.
        9. Berobat kemana2. Salut buat mas Darwis yg fokus ke rumah sakit. Saya malah banyak banget saking pengen sembuhnya a.l. rumah sakit, dokter umum, dokter saraf, dokter praktek, tukang urut, mantri kesehatan, psikiater (karena saya pikir saat itu saya kena syndrom psikosomatik), dukun (saya dibawa ibu angkat, yang saya gak tau kalau yh didatangi itu dukun, naudzubillah).
        Alll over banyaklah kesamaan. Cuma saya bersyukur sekali ketika saya benar2 masih belum tau ini penyakit apa, tanpa sengaja obatnya datang sendiri dan saya lakukan sendiri tanpa tau apa2. Dan yang paling ngefek membuat saya bangkit dari Bedrest yang hampir 3 tahun adalah SAYA JATUH CINTA. Wallahi, jatuh cinta benar2 membuat anxiety saya sembuh 100% (menurut saya sih). Karena saat cinta datang tidak ada apapun kecuali keidahan, kesenangan, optimisme, semangat, dan mental2 positif lainnya. Di waktu berikutnya saya baru menemukan bahwa tubuh kita akan mengeluarkan enzim ketika bahagia. Klu gak salah Endorphim ya. Enzim itu yang menambal semua rasa sakit, rasa takut, lelah dll. Katanya sih enzin itu mirip morphin tp asli dari tubuh sendiri.
        Saya hanya berbagi cerita, karena berbagi cerita dapat mengurangi stress anda dan saya. Semangat kawan2!!! Gak ada sakit yg gak ada obatnya. Penyakit itu pelebur dosa. So, gak ada ruginya. Terimalah itu dengan ikhlas. Bagi kawan2 yg ada merasa takut mati karena terserang anxiety, ini hal yg gak sengaja menyadarkan saya.
        Coba ingat2 disekitar anda, oasti ada orang yang anda anggap sehat, ternyata mati. Sedangkan anda udah setiap waktu mikir mati masih hidup aja. So, gak ada hubungannya dengan penyakit.
        1. Terima sakitmu dengan ikhlas
        2. Cari bahagiamu, temukan orangnya, tempatnya, waktunya dan lingkungannya.
        3. Jaga kesehatan fisik
        4. Hindari stress

        NB: saya masih merokok, belum bisa berhenti.

  7. Utk penderita gerd apakah ada penurunan BB ? Saya mengalami BB 7 kg dlm 1 bulan dimana stress saya akan penyakit ini

  8. Cara menghilangkan sesak nafasnya minum apa mas?sy dh hampir 2 minggu ini blm hilang klo buat narik nafas panjang lewat mulut kadang plong kadang tidak lm2 muncul panik

  9. Mas, kalo buahnya diganti sama buah yang lain gimana, misal pepaya gitu???? Soalnya keterbatasan biaya… 😊😊😊😊

  10. Kak itu pola makan yg 3 sendok itu buat sarapan trus 3 sendok lagi buat mkn siang 3 sendok lagi makan mlm kak

    1. Kondisi ini boleh dilakukan jika perut sudah terasa begah sekali dan ingin muntah atau sesak nafas meski dengan 3 sendok asupan makan saja. Namun sebaiknya makan makanan bergizi sesuai dengan porsi umumnya, namun diberi jeda dengan memakannya sedikit-sedikit., seperti 1 jam, 1 jam, dst.

      1. Pak Darwin kira makan nasi atau bubur nasi pakai lauk apa y sekarang Khan semua penjual makanan pedes semua tks.

  11. Selamat malam..selama menjalani proses tahap pertama..apakah kita hanya makan bubur, telor atau susu murni saja? Atau bisa di mixed dengan makan sayur bening atau ad referensi yg lain?terimakasih sebelumnya

  12. Saya saring bahasa dari atas hingga ahir cerita ini rata2 cerita yg mengalami gerd sama,tapi sedikit saya saring intisari dari cerita diatas,mmg benar
    kita harus tabah dan iklhlas menjalaninya hingga sembuh kak,jika kita tenang dan tidak gugup atau cemas pasti akan serasa plong,dan kita serasa nyaman,anxinty mmg harus di tahlukkan terlebihi dahulu.
    Tpi jika kita merasa cemas pasti seakan serasa
    sesak di di dada atau ada serasa panas(heartburn)

    Pertanyaan saya , apakah semua di badan bisa serasa heartburn kak?
    Contohnya seperti lengan? Punggung belakang?
    Apakah karena otot yang kinerjanya di pengaruhi naikya asam,terjadi seperti itu?

    1. Terimakasih banyak mas atas pemaparannya.. aq sekarang sedang di tahap 1 mas sesuai cerita mas di atas.. sekarang lebih tenang.. gerd tidak menyebabkan kematian.. dan aq Alan berusaha meluruskan pola pikir dan lebih mendekat ke Allah.. juga ditambah pola makan yg 3 sendok tiap 1 jam.. aq Alan berusaha sekuat tenaga.. Saya ibu dengan 3 anak ( 8th, 7th, 3th) .. semoga Saya lekas sembuh.. Saya akan terima takdir Allah ini dan sabar sampai sembuh.. InsyaAllah Aamiin.

  13. Saya juga mengalami hal demikian saat ini, dan Alhamdulillah sdah membaik.. Ya benar kita harus tenang dan menormalkan kembali kondisi psikis kita. Adpun teknik yg sy gunakan utk menterapi kondisi saya adalah pakai teknik SEFT. Semua kondisi fisik yg sedang sy alami dan kondisi psikis juga sy terapi, termasuk kondisi emosional sy kepada anak, istri, adik dan ortu. Dan Alhamdulillah kondisi psikis sy jauh membaik hari ini. Silahkan dicoba teknik ini. Bisa belajar di youtube, SEFT pelopornya Bpk Ahmad Faiz Zainuddin, M. Psi

  14. Saya kenak gerd sudah 3 bulan asam lambung naik terus makan 2 sendok naik….sampai heartburn dan mengganjal ditenggorokan

  15. Assalamu’alaikum…
    Terimakasih banyak artikel nyaπŸ™
    Izin bercerita sekaligus bertanya,saya juga penderita gerd anxiety sejak maret 2020 lalu dan saya rasa masih sampai sekarang.Tapi saat itu sempat sembuh sih,dan bbrpa bulan setelah sembuh tiba-tiba kambuh lagi,dan setelah melakukan bbrpa jenis pengobatan baik medis maupun alternatif syukur kepada Allah SWT Alhamdulillah sempat sudah agak membaik lagi.Tapi saya masih nherasa gerd anxiety ini masih ada sampai sekarang, hingga saya kadang ngerasa momen parah gerd anxiety ini kambuh lagi(sering)di moment gerd anxiety yang saat ini masih saya alami,ada satu hal menjanggal yg saya rasakan pada bagian mata dan kepala itu terasa seperti ada yang tertarik,atau tarik menarik di bagian tubuh atas.Tapi yang paling saya rasakan adalah di bagian mata dan kepala kanan.Entah kenapa rasa mata dan kepala yang seperti tegang banget belum juga mereda sampai sekarang.Dan ini menjadi salah satu dari sekian yang berpengaruh terhadap sering kambuhnya gerd anxiety saya.Bahkan rasa tegang,seperti tertarik pada mata dan kepala saya menjadi hal yg setiap detik nya saya pikirkan,saya bingung,saya panik*stress:(.
    Pertanyaan :
    1. Apakah rasa mata dan kepala yg tegang/seperti tertarik dalam jangka lama ini memang ada pengaruh nya dengan gerd anxiety yg mengganggu seluruh bagian tubuh si penderitanya?
    2.Apa yang baiknya saya lakukan setelah dalam kondisi yang sudah seperti ini?
    Terimakasih sebelumnya
    Wassalamu’alaikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *