heartburn bukanlah akibat penyakit jantung
Heartburn tidak sama dengan heart attack (serangan jantung)

Heartburn: Sensasi GERD yang Tidak Ada Hubungannya dengan Jantung

Posted on

Heartburn yang dirasakan sesekali adalah merupakan satu gejala yang paling umum dialami oleh sebagian orang. Anda bisa menanyakan kepada kelompok orang dewasa di manapun secara acak apakah mereka pernah mengalami heartburn dalam setahun terakhir, dan mungkin sepertiganya akan angkat tangan.

Ada sejumlah hal yang dapat dilakukan untuk menghindari heartburn.

Penting untuk membedakan heartburn yang terjadi sesekali saja dan yang berlangsung lama dan terus berulang. Ini bisa menjadi tanda dari kondisi yang mendasari seperti penyakit gastroesophageal reflux (GERD).

Jika heartburn terjadi pada intensitas yang tinggi atau terus-menerus, penting untuk memeriksakan diri ke dokter agar Anda mendapatkan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang tepat.

Apa Sebenarnya Heartburn?

Heartburn ialah sensasi terbakar di dada, tepatnya dirasakan di belakang tulang dada. Terdapat bagian heart atau jantung pada kata ini, namun heartburn tidak berhubungan dengan nyeri dada (angina) akibat penyakit jantung.

Walaupun begitu, meskipun nyeri dada atau tekanan dada mungkin mengindikasikan refluks asam, siapapun yang mengalami nyeri atau ketidaknyamanan semacam ini berhak mencari evaluasi medis segera.

Kemungkinan kondisi jantung harus selalu dikecualikan terlebih dahulu.

Gangguan pencernaan terkadang digunakan untuk menggambarkan heartburn, tetapi istilah ini tidak tepat dan orang menggunakannya untuk menggambarkan apapun mulai dari diare hingga bersendawa.

Terdapat lagi istilah “Dispepsia” yang menggambarkan nyeri di perut bagian atas (di bawah dada) yang menyerupai tukak lambung.

Penting untuk tidak mengacaukan dispepsia dengan heartburn karena perawatannya sangat berbeda.

Apa yang menyebabkan heartburn terjadi?

Dalam hal membantu pencernaan, lambung menghasilkan asam yang sangat kuat yang disebut asam klorida.

Kita biasanya tidak menyadarinya karena lambung dirancang untuk menahan asam ini. Namun, kerongkongan atau saluran menelan tidak begitu terlindungi.

Jika asam keluar dari lambung menuju ke kerongkongan (gastroesophageal reflux), akan berisiko mengiritasi atau merusaknya.

Dalam keadaan normal dan agar refluks asam dari lambung ke kerongkongan tidak terjadi, sfingter esofagus bagian bawah atau LES harus berperan secara normal.

Normalnya LES berarti saat makanan memasuki kerongkongan dan saat akan menuju lambung, katup LES harus membuka dan kemudian menutup kembali saat makanan atau minuman tersebut telah memasukinya.

Kondisi tidak normal terjadi saat ia membuka secara rileks ketika makanan sedang diolah di dalam lambung, sehingga memungkinkan terjadi “muncratan” asam dan isinya dari lambung menuju ke kerongkongan.

Gambaran Sfingter Esofagus Bagian Bawah (LES)

LES yang bekerja normal dalam jangka waktu yang lama, kadang-kadang kinerjanya terganggu karena beberapa hal, seperti:

  • Makan berlebihan
  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Obat-obatan tertentu yang membuat mekanisme LES berjalan tidak normal
  • Hiatal hernia

Dan masih ada lagi beberapa faktor pemicu terjadinya refluks yang jika terjadi secara intens dapat menyebabkan heartburn.

Beberapa Tips untuk Mencegah Refluks

Dalam banyak tulisan di website ini menyebutkan tips dan panduan bagi seseorang dengan gangguan asam lambung seperti refluks asam dan GERD.

Tim editorial selalu memberikan refreshment pada bagian-bagian artikel tertentu untuk menegaskan kembali pentingnya melakukan perawatan intensif agar tidak berujung pada komplikasi yang lebih parah seperti terjadinya Barrett Esophagus.

Berikut adalah sejumlah tips untuk mencegah refluks asam terjadi:

  1. Jaga Postur Tubuh

Gravitasi memainkan peran penting dalam mengendalikan refluks. Berbaring setelah makan besar dapat membebani kinerja LES. Situasi ini dapat membuat makanan kembali ke kerongkongan dan heartburn bisa terjadi.

Jika Anda mengalami heartburn, pikirkan apakah itu terjadi setelah makan, saat Anda berbaring di tempat tidur di malam hari, atau jika Anda tidur siang setelah makan.

Mempertahankan postur tubuh yang tegak sampai makanan dicerna dapat mencegah gejala ini.

Bila heartburn terjadi secara teratur di malam hari, usahakan posisi kepala dan kerongkongan lebih tinggi daripada lambung.

Hindari aktivitas fisik setelah makan karena akan membebani otot perut dan memaksa makanan keluar melalui sfingter yang melemah.

Kegiatan atau aktivitas yang dimaksud adalah yang membutuhkan perubahan posisi antara bagian tubuh atas dan bawah, seperti mengangkat beban, olahraga sit-up, mengepel, dan sebagainya.

2. Cara Makan

Ini adalah hal yang terpenting. Lambung akan memproses makanan porsi besar lebih lama daripada sekedar camilan atau porsi kecil. Pemrosesan makanan porsi besar dan durasi kerja lambung yang lebih lama akan berisiko memberikan tekanan pada LES, apalagi ditambah dengan aktivitas fisik yang sudah disebutkan di atas.

Ubah kebiasaan makan malam Anda menjadi sore hari. Ini akan memberikan waktu yang cukup bagi lambung untuk memproses sempurna makanan sebelum Anda tidaur di malam hari (lihat bagian postur tubuh di atas).

Namun jika Anda terpaksa makan malam karena suatu urusan tertentu seperti jamuan atau undangan, maka berikan jarak paling tidak 3 jam setelah makan sebelum berbaring tidur.

Makanan porsi kecil dan postur tubuh yang tegak juga santai akan membantu meminimalkan refluks.

3. Jenis Makanan

Perlu diketahui bahwa makanan tertentu dapat mempengaruhi kinerja sfingter dan berisiko membuat asam naik dari lambung ke kerongkongan.

Namun, jenis makanan mungkin akan menghasilkan reaksi berbeda bagi tiap orang dibandingkan faktor cara akan dan menjaga postur tubuh.

Beberapa makanan yang menimbulkan risiko refluks asam antara lain:

  • Makanan berlemak
  • Bawang
  • Cokelat

Alkohol juga menjadi pemicu utama karena akan berisiko mengiritasi esofagus juga merangsang produksi asam lambung.

Makanan tertentu lainnya mungkin mengganggu sebagian orang. Saat Anda menyadari ada makanan yang memicu heartburn, coba hindari atau kurangi untuk jangka waktu tertentu.

Sejumlah obat oral juga bisa menimbulkan rasa terbakar jika dibiarkan berlama-lama di kerongkongan. Untuk itu, selalu telan obat dalam posisi tegak dan basuhi dengan air.

4. Faktor Lainnya

Obesitas atau kondisi kelebihan berat badan dapat juga memicu refluks asam. Hal ini dikarenakan lemak perut dapat memberikan tekanan pada area lambung dan LES.

Mengurangi berat badan secara benar dapat mengurangi gejala refluks.

Wanita hamil juga seringkali menjadi faktor risiko terkena heartburn, terutama pada tiga bulan pertama.

Hormon tertentu tampaknya juga melemahkan LES, dan perut yang semakin padat mendorong terjadinya refluks.

Umumnya, jika tidak terjadi kenaikan berat badan yang terlalu banyak selama kehamilan, heartburn pada wanita akan membaik setelah melahirkan.

Stres atau emosi yang terlalu kuat juga dapat memengaruhi heartburn.

Langkah-langkah Penting yang Perlu Dilakukan

Bagaimana? sudah cukup jelas bukan? Bahwa heartburn tidak bisa diidentikkan dengan serangan jantung, meski mungkin sensasinya mirip. Anda dapat mengetahui perbedaannya dengan mengunjungi tautan artikel ini.

Beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan sebagai kesimpulan atas tulisan ini antara lain:

  • Hindari berbaring setelah makan.
  • Jaga posisi postur tubuh agar tetap tegak dan rileks sesaat setelah makan, jangan melakukan aktivitas yang memerlukan posisi tubuh membungkuk.
  • Makan malam lebih awal, lebih baik di sore hari.
  • Makan sedikit-sedikit, jangan langsung porsi besar.
  • Hindari makanan berlemak, cokelat, dan bawang.
  • Lakukan peninjauan dengan dokter Anda atas obat-obatan yang diresepkan, apakah akan mempengaruhi refluks asam secara signifikan atau tidak.
  • Pertimbangkan untuk segera melakukan diet sehat jika Anda mengalami obesitas.
  • Kelola emosi dan stres dengan baik.

Jika tindakan langkah-langkah tersebut tidak menunjukkan perubahan, Anda bisa mempertimbangkan menggunakan antasida untuk sementara yang dapat meredakan gejala dan mampu menetralkan asam lambung.

Antasid yang mengandung alginat akan mengapung di lambung dan mencegah refluks dengan menghalangi esofagus bagian bawah. Ini aman jika digunakan dalam jumlah sedang dan sesuai petunjuk.

Sekarang ada obat bebas yang mengurangi produksi asam dan dapat dikonsumsi dengan aman selama beberapa hari sampai heartburn mereda.

Risiko Komplikasi Akibat Heartburn

Perlu diperhatikan jika heartburn yang Anda alami terjadi 2 kali atau lebih dalam seminggu, walaupun Anda melakukan tindakan-tindakan di atas, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter keluarga Anda.

Lalu, jika Anda berumur lebih dari 50 tahun dan heartburn terjadi karena olahraga, atau Anda memiliki riwayat penyakit jantung, perlu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Hal tersebut untuk memastikan bahwa sumber rasa sakit tersebut bukan berasal dari jantung Anda.

Dalam kondisi lebih lanjut, bila heartburn yang Anda alami disertai dengan kesulitan bernapas atau suara berubah menjadi parau / serak, disarankanm untuk segera mencari bantuan medis.

Obat-obatan Penekan Asam

Terdapat sejumlah obat-obatan yang mungkin diresepkan dokter Anda untuk gejala persisten, dan tes dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain.

Obat-obatan dengan peran sebagai penekan asamakan mengontrol gejala heartburn, tetapi kondisi yang menyebabkan refluks tetap ada. Oleh karena itu, heartburn kemungkinan akan kembali setelah obat dihentikan.

Banyak orang belajar mengendalikan heartburn tanpa menggunakan obat penekan asam. Perubahan postur dan pola makan yang disebutkan di atas tetap menjadi bagian penting dari perawatan. Salah satu pengalaman penyintas GERD ini dapat Anda baca pada artikel terpisah di sini.

Meskipun begitu, kondisi heartburn yang terus-menerus atau GERD, mungkin memerlukan terapi obat untuk memungkinkan penyembuhan dan mencegah kekambuhan.

Terapi tersebut harus dilakukan di bawah bimbingan seorang dokter.

sumber: aboutgerd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *