Keterkaitan antara Sesak Nafas / Asthma dan GERD
Hubungan GERD dan Sesak Napas

Hubungan Mengejutkan antara GERD dan Asma (Sesak Nafas)

Posted on

Artikel ini akan menjelaskan korelasi yang kuat antara GERD dan asma di mana keduanya bisa saling memperburuk situasi antara satu dan lainnya. Kemudian dijelaskan pula bagaimana cara melakukan treatment untuk mengatasi penyakit tersebut.

Jika pada saat ini Anda mengalami penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dan Anda mengalami serangan sesak napas, mengi, atau batuk yang tidak dapat dijelaskan, padahal sebelumnya Anda tidak memiliki riwayat asma (asthma), Anda mungkin perlu mencurigai bahwa hal tersebut diakibatkan karena efek gejala GERD Anda mulai semakin buruk. Percaya atau tidak, GERD dapat memicu gejala mirip asma. Kondisi ini sering disebut sebagai gejala ekstra esofagus bahkan jika Anda belum pernah didiagnosis menderita asma sebelumnya. Tentu ini juga akan sangat berdampak ketika Anda sebelumnya pernah terdiagnosis asma, mungkin akan memperburuk kondisi pernapasan yang Anda miliki.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Klinik Cleveland, diperkirakan lebih dari 75 persen orang dengan asma juga memiliki penyakit GERD. Penelitian oleh The American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine edisi Februari 2017 menyebutkan bahwa para peneliti menguji beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya asma dan menemukan bahwa indeks massa tubuh yang lebih tinggi, gastroesophageal reflux, dan sinusitis kronis memiliki keterkaitan terhadap frekuensi terjadinya asma.

Seorang profesor kedokteran dan otolaryngology dan direktur Pusat Gangguan dan Penyebaran Esfofagus di Vanderbilt University Medical Center Nashville, Michael Vaezi menyatakan bahwa terdapat hubungan erat antara refluks asam dan asma, terutama asma yang sudah terdiagnosis yang dialami oleh orang dewasa. Para dokter spesialis paru dan ahli gastroenterologi tahu tentang hubungan ini, namun pasien mungkin tidak mengetahuinya secara pasti perihal korelasi tersebut.

Apa Saja yang Menjadi Penyebab Hubungan Antara GERD dan Asma?

Hubungan di antara kedianya masih belum menunjukkan sesuatu yang sangat jelas, namunn terdapat beberapa teori. Salah satu teori menyebutkan bahwa jika seseorang menderita GERD, mengalirnya asam lambung ke saluran udara dalam pernapasan dapat menyebabkan iritasi di area tersebut, sehingga menimbulkan kesulitan dalam bernapas, atau mengalami batuk kering terus-menerus.

Dr. Vaezi menyatakan bahwa jika Anda memiliki riwayat refluks asam dan Anda mengeluarkannya begitu banyak (menuju esofagus), Anda akan beresiko mengalami bronkospasme yang dapat memicu asma.

Teori lainnya menyebutkan bahwa refluks asam juga dapat berakibat memicu refleks saraf pelindung yang menyebabkan saluran udara mengencang untuk mencegah asam lambung memasuki paru-paru. Kondisi ini bisa jadi dapat menyebabkan bronkospasme juga.

Hingga saat ini (2018), belum ada satu tes pun yang dapat secara definitif mengidentifikasi refluks sebagai penyebab gejala mirip asma pada mereka yang terjangkit GERD. Untuk menentukan apakah refluks asam memperburuk asma, dokter biasanya mempertimbangkan gejala seseorang dan reaksi mereka terhadap pengobatan. Dalam hal perawatan, dokter mungkin akan meresepkan penggunaan obat penekan asam secara agresif untuk melihat apakah gejala seperti asma tersebut membaik, kata Vaezi. Jika tidak dilakukan cara tersebut, maka tidak bisa diketahui bahwa refluks yang terjadi tersebut menjadi penyebab di balik adanya gangguan saluran pernapasan tersebut.

Sementara itu, efeknya juga bisa terjadi sebaliknya, yang artinya bahwa asma dapat memperburuk refluks asam. Hal ini disebabkan karena perubahan tekanan yang terjadi di dalam dada dan perut selama serangan asma. Dr. Vaezi menyebutkan bahwa mengi (bunyi nafas yang kencang disertai sesak di dalam dada) dapat mengurangi tekanan di dada, dan batuk mengubah tekanan di katup LES, sehingga dapat menarik isi lambung dan menyebabkan refluks.

Bagaimana Cara Mengendalikan GERD dan Asma

Kabar baiknya adalah, treatment yang baik terhadap salah satu kondisi ini dapat membantu memperbaiki gejala dan meminimalkan salah satu kondisi yang lainnya pula (antara GERD dan asma).

Jika GERD Anda mentrigger atau memicu Asma atau sebaliknya, dengan mentreatment salah satunya berarti Anda juga telah mentreatment yang lain

Dr. Vaezi menyeutkan bahwa orang-orang yang menderita asma nokturnal dan nyeri ulu hati lebih mungkin untuk merespon obat-obatan inhibitor pompa proton (PPI) dan gejala asma lebih mungkin menjadi membaik.

Namun pada sebagian orang dengan keluhan asma berat, perawatan GERD dapat memperburuk masalah pernapasan mereka. Sebuah studi dalam edisi September 2017 pada Journal of Clinical Immunology menemukan bahwa orang dengan asma yang sulit diobati (dengan obat penekan asam) memiliki pengaruh terhadap lingkungan bakteri di saluran pernapasan mereka dan dapat mengurangi respon mereka terhadap obat kortikosteroid untuk asma yang mereka derita; tidak responsifnya pengobatan ini dapat menyebabkan peradangan yang menetap di paru-paru dan menimbulkan asma yang lebih parah.

Harus terjadi keseimbangan dalam merawat GERD dan asma, sangat penting untuk dilakukan identifikasi atau diagnosis yang tepat terhadap kondisi ini. Jika Anda mengalami refluks dan gejala saluran napas seperti mengi, batuk, atau sesak napas, sebaiknya Anda bekerja sama dengan ahli gastroenterologi dan spesialis asma untuk mendapatkan perawatan yang tepat atas kedua kondisi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *