Cara mengatasi gangguan tidur pada penderita GERD
Alat Canggih Pendeteksi Ritme Tidur

Panduan Tidur Berkualitas untuk Penderita GERD

Posted on

GERD atau Gastroesophageal reflux disease merupakan suatu kelainan kronis yang umumnya menyerang kerongkongan.

Sejumlah riset ilmiah sudah memperkirakan kalau 1 dari 5 orang populasi orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gejala terkait GERD, berarti sekitar 20% dari populasi.

Penelitian tentang Hubungan GERD dengan Kualitas Tidur

Beberapa penelitian juga sudah menunjukkan bahwa 4 dari 5 penderita GERD yang telah diteliti mengalami gejala-gejala tersebut di malam hari.

Dengan kejadian heartburn di malam hari, 3/4 nya melaporkan bahwa gejala tersebut mempengaruhi kualitas tidur mereka.

Kejadian refluks asam di malam hari kerap dikaitkan dengan gejala GERD yang lebih agresif.

Sepertinya GERD dan tidur memiliki hubungan secara dua arah. GERD sudah terbukti mempunyai dampak buruk ketika tidur yang dapat membangunkan si penderita di malam hari secara tiba-tiba. Bahkan bisa terjadi beberapa kali pada satu malam berjalan.

Kualitas Tidur yang Buruk akan Mempengaruhi Kesejahteraan

Dengan keadaan tersebut, pasien dengan GERD mempunyai kualitas tidur yang buruk dan berisiko mengakibatkan masalah-masalah yang akan terjadi di hari-hari berikutnya.

Jika hal tersebut terjadi secara berulang-ulang, tentu bisa meningkatkan risiko lanjutan di bagian kerongkongan yang dapat mengakibatkan esophageal hypersensitivity. Potensi ini tentunya akan mengakibatkan lamanya waktu esofagus terpapar asam lambung.

Yang perlu dicatat kejadian refluks di malam hari ini adalah kaitannya dengan gejala GERD yang lebih agresif.

Keadaan di atas tentu akan meningkatkan risiko komplikasi lanjutan seperti Barret Esofagus, kanker esofagus, radang kerongkongan, bahkan berpotensi menyerang saluran pernapasan dan pendengaran, seperti masalah manifestasi orofaringeal, laring, dan paru).

Gejala yang dapat ditimbulkan akibat kualitas tidur yang buruk bagi penyintas GERD

Buruknya kualitas tidur yang disebabkan oleh gangguan asam lambung akan menambah gejala-gejala yang lebih kompleks seperti:

  1. Suara menjadi parau.
  2. Sakit tenggorokan.
  3. Asma.
  4. Batuk kering yang bersifat kronis.

Orang-orang dengan GERD yang mengalami heartburn di malam hari kualitas hidupnya tentu akan lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang hanya mengalaminya di siang hari.

Dalam dekade terakhir ini, Neuroenteric Clinical Research Group sudah bekerja pada area ini (yaitu GERD dan perihal tidur) untuk menjabarkan hubungan yang tepat antara kedua gangguan itu.

Pengujian yang dikembangkan untuk mengukur kualitas tidur bagi penyintas GERD

Alat uji yang sudah dikembangkan untuk mengukur dan mengetahui hubungan antara GERD dan kualitas tidur adalah diterapkannya penggabungan actigraphy, yaitu alat semacam arloji yang dapat mendeteksi pasien saat tertidur dan terbangun, dan mengujinya dengan alat ukur pH untuk mengukur paparan asam yang dicocokkan dengan waktu-waktu tersebut.

Metode gabungan di atas dapat dimungkinkan untuk menentukan bagaimana hubungan antara kejadian refluks asam, gejala, serta periode tidur dan bangun.

Dalam seruntutan penelitian yang dilakukan oleh kelompok riset tersebut telah menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di tempat tidur sebelum penderita tidur merupakan periode yang rentan untuk terjadinya refluks gastroesofagus.

Semakin lama waktu terjaga yang dihabiskan di tempat tidur, semakin besar paparan asam esofagus yang dialami.

Kemudian, grup riset tersebut juga menunjukkan bahwa selama tidur, orang-orang dengan GERD dapat terbangun berkali-kali. Namun, hanya setengahnya saja kejadian terbangun tersebut yang disebabkan oleh refluks gastroesofagus.

Anehnya juga, refluks gatroesofagus yang membuat pasien menjadi terbangun justru tidak berkaitan dengan gejala-gejala pada umumnya terjadi, artinya ini menunjukkan bahwa orang-orang dengan GERD bisa terbangun di malam hari karena kejadian refluks tanpa gejala-gejala.

Neuroenteric Clinical Research Group juga menunjukkan atas hasil penelitiannya bahwa sebagian besar kejadian refluks asam selama tidur justru terjadi setelah orang tersebut bangun dari tidurnya. Di samping itu, ditemukan pula bahwa bangun di pagi hari juga dikaitkan dengan refluks yang signifikan.

Dengan kata lain, transisi dari tidur ke bangun di pagi hari dikaitkan dengan refluks yang signifikan pada mereka yang mengalami GERD.

Salah satu kesimpulan yang didapat dalam penelitian tersebut adalah sangat penting untuk meminimalkan waktu terjaga (tidak segera tidur) yang dihabiskan oleh penderita GERD di tempat tidurnya.

Dengan hasil di atas, grup studi tersebut memulai sebuah studi baru untuk menilai dan melakukan tinjauan tentang obat resep yang mendorong tertidur (obat tidur), yaitu ramelton (kategori agonis reseptor melatonin), khusus pada gejala terkait refluks esofagus selama tidur.

Orang-orang dengan GERD hanya menerima ramelteon sebelum tidur dalam periode enam minggu. Dalam studi ini, kelompok pembandingnya di-treatment dengan plasebo.

Dari hasil riset menyebutkan bahwa mereka yang menjalani resep ramelteon sebelum tidur selama 6 minggu melaporkan lebih sedikit gejala terkait GERD selama malam hari. Dengan demikian, berdampak pada meningkatnya kualitas tidur mereka.

Dalam penelitian terbaru lainnya, grup riset tersebut juga mendalami peran tidur siang terkait refluks gastroesofagus.

Tidur siang sering disebut sebagai tidur pendek / tidur dangkal, ini jauh lebih rentan terkena refluks esofagus, lebih-lebih jika dilakukan sesaat setelah makan siang.

Penelitian menunjukkan bahwa tidur siang lebih berisiko terkena refluks gastroesofagus dan gejala terkait GERD jika dibandingkan dengan waktu tidur yang setara di malam hari.

Kelompok studi tersebut berencana untuk mengeksplorasi lebih lanjut jika obat-obatan dengan kualifikasi eningkatkan kualitas tidur dapat menjadi aset utama bagi penderita GERD terutama yang memiliki masalah saat mereka tidur.

Pentingnya Tidur Sehat

Merupakan hal penting bagi setiap orang untuk tidur yang cukup, namun akan menjadi lebih penting jika hal ini terjadi bagi orang-orang dengan gangguan pencernaan fungsional dan gangguan motilitas.

Tidak berkualitasnya tidur dapat mempengaruhi gejala-gejala terkait gangguan pencernaan. Sebaliknya, gejala atas gangguan saluran pencernaan juga bisa mempengaruhi kualitas tidur. Ini berarti, 2 komponen tersebut saling terkait.

Untuk mengetahui mengapa tidur itu penting, ada baiknya untuk mengetahui sedikit latar belakang tentang ilmu tidur.

Tahap-tahapan tidur

Siklus tidur akan melewati sejumlah tahap yang terdiri atas 2 keadaan dasar, yaitu:

  1. Gerakan mata tidak cepat (NREM / Non-rapid eye movement sleemp, terjadi pada tahap 1-4).
  2. Gerakan mata cepat (REM / Rapid-eye movement sleep, terjadi pada tahap 5).

Setiap tahapan siklus tersebut sangat penting untuk meraih istirahat malam yang berkualitas.

Mari kita bahas tahapan-tahapan tersebut.

Tahap 1

Ini merupakan tahap singkat tidur antara kondisi terjaga dan sepenuhnya tidur. Aktivitas otot yang melambat adalah tanda-tanda awal dari tahap ini.

Tahap 2

Tahap kedua ini terjadi ketika suhu tubuh turun, kemudian gelombang otak menjadi lebih lambat, namun pernapasan dan detak jantung tetap teratur.

Tahap 3-4

Tidur yang paling restoratif terjadi pada tahapan ini. Yang terjadi pada tahap 3 hingga 4 ini adalah pernapasan akan semakin melambat, tekanan darah berangsur turun, dan aktivitas otot berhenti.

Pada tahap ini terjadi pemulihan energi dan perbaikan jaringan, termasuk hormon pertumbuhan dan perkembangan.

Tahap 5

Tahap ini adalah satu-satunya tahapan REM, atau rapid-eye movement sleep. Pada tahapan ini, pernapasan menjadi cepat dan tidak teratur. Kemudian denyut jantung meningkat serta tekanan darah menjadi naik.

Tahap ini akan memberikan energi pada tubuh dan memberikan rasa rileks yang lebih terhadap otot-otot.

Pada bagian ini pula mimpi dapat terjadi. Penelitian juga menyebutkan bahwa tidur pada etape ini akan merangsang bagian otak yang digunakan untuk belajar dan merekam.

Dampak yang ditimbulkan akibat tidur sehat

Tidur sangatlah penting untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosi. Sejumlah efek positif atau manfaat yang dapat diraih dari tidur yang berkualitas antara lain:

  • Kemampuan berpikir jernih.
  • Dapat bereaksi dengan cepat.
  • Membuat kenangan.
  • Membantu untuk tetap fokus.
  • Membangun massa otot.
  • Memperbaiki sel dan jaringan.
  • Melepaskan hormon yang membantu sistem kekebalan tubuh.
  • Melawan infeksi.
  • Mengontrol penggunaan energi tubuh.
  • Mengatasi rasa sakit.

Tips-tips untuk meningkatkan kualitas tidur

Kalau Anda merasa mengalami kesusahan dalam istirahat malam yang baik, mungkin ini adalah tips-tips yang bisa Anda jalani untuk meningkatkan kualitas tidur Anda.

Namun jika tips di bawah ini dirasa belum menunjukkan peningkatan, hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Baik, berikut adalah tips-tips supaya tidur menjadi berkualitas:

  1. Pastikan konsisten dengan jadwal tidur. Usahakan tidur dan bangun dengan waktu yang teratur.
  2. Jalankan olahraga ringan yang teratur.
  3. Hindari kafein dan nikotin. Perlu diketahui bahwa memerlukan waktu sekitar 8 jam untuk menghilangkan efek kafein.
  4. Hindari alkohol sebelum tidur.
  5. Hindari makan besar pada malam hari, terutama menjelang jam tidur. Makan dan minum besar sesaat menjelang tidur malam akan menyebabkan refluks dan menyebabkan Anda akan sering terbangun untuk menggunakan kamar mandi.
  6. Hindari tidur siang selepas makan.
  7. Lakukan hal-hal santai sebelum tidur. Jangan melakukan hal berat, apalagi sesuatu yang memicu stres.
  8. Jangan terlalu lama terjaga di tempat tidur. Jika dalam 20 menit Anda berbaring dan belum tidur-tidur, kembali ke langkah 7.
Tips Meningkatkan Kualitas Tidur bagi Penderita GERD

Baik, demikianlah sejumlah tips dan trik agar tidur Anda lebih sehat dan berkualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *