Manajemen perawatan pasien dengan GERD
Contoh Perawatan Bedah GERD: Fundoplikasi Nissen

Pengelolaan dan Perawatan yang Tepat Bagi Penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

Posted on

GERD atau penyakit refluks gastroesofagus memerlukan pendekatan manajemen perawatan yang berjenjang dengan tahapan penyembuhannya yaitu pengendalian terhadap gejala GERD, penyembuhan esofagitis, pencegahan esofagitis yang berulang, serta pencegahan terhadap komplikasi lain.

Beberapa Jenis Perawatan bagi Pentintas GERD

Sementara itu, perawatan dapat meliputi perubahan atau modifikasi gaya hidup dan pengontrolan terhadap sekresi asam lambung yang dapat diperoleh dengan terapi medis melalui obat-obatan antasida atau PPI atau perawatan bedah dengan melakukan operasi korektif anti refluks.

Medscape dalam publikasinya menyebutkan bahwa terdapat sekitar 80% pasien memiliki model GERD yang berulang namun tidak progresif dengan pengendalian obat-obatan.

Identifikasi lanjutan terhadap 20% lainnya perlu dilakukan karena mereka dapat mengalami komplikasi yang buruk, seperti Barrett Esofagus. Perawatan berupa operasi bedah perlu dipertimbangkan bagi mereka yang mengalami komplikasi agar terhindar dari gejala sisa penyakit.

Dokter ahli gastritis atau konsultan gastroenterologi perlu mempertimbangkan untuk memiliki software AI / Artificial Intelligent yang memiliki fungsi pengambilan keputusan terhadap perawatan yang tepat kepada pasien GERD. Input data dapat berupa kuesioner.

Hasil dari data tersebut tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan model perawatan yang tepat terhadap pasien, namun juga bisa digunakan untuk peningkatan manajemen pasien GERD dalam pengaturan perawatan primer, serta keperluan penelitian.

Modifikasi Gaya Hidup yang Diperlukan untuk Mengelola GERD

Perubahan atau modifikasi gaya hidup merupakan hal yang sangat penting bagi orang-orang dengan GERD. Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan terkait modifikasi gaya hidup:

  • Menurunkan berat badan. Penjelasan tentang hubungan berat badan dan GERD dapat dilihat melalui artikel ini.
  • Menghindari makanan dan minuman beralkohol, cokelat, jus jeruk, serta produk dengan bahan dasar tomat. The American College of Gastroenterology juga menyarankan agar orang-orang dengan GERD menghindari makanan dan minuman seperti kopi, mint, dan bawang merah.
  • Tidak makan besar dalam satu waktu. Jika Anda terbiasa dengan makan sepiring besar, bagi mereka menjadi beberapa sesi kecil dan tidak untuk dimakan dalam satu waktu.
  • Hindari berbaring setelah makan, paling tidak 3 hingga 4 jam, hingga lambung telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
  • Tinggikan posisi kepala saat tidur, paling tidak 8 inci atau minimal 20 cm.

Perawatan GERD bagi Wanita Hamil

Perubahan atau modifikasi gaya hidup akan menjadi sangat penting bagi para wanita hami dengan keluhan GERD.

Wanita hamil dengan GERD disarankan untuk selalu mengangkat bagian kepala saat tidur, menghindari posisi membungkuk, menghindari makan besar dalam sekali waktu, serta memberi waktu selama 3 atau 4 jam setelah makan untuk berbaring / tidur.

Terapi Farmakologis bagi Penderita GERD

Beberapa terapi farmakologis yang mungkin diperlukan bagi penyintas GERD antara lain.

ANTASIDA

Antasida ialah jenis pengobatan standar yang mulai terkenal pada tahun 1970-an dan masih cukup efektif untuk mengatasi gejala GERD ringan.

ANTAGONIS RESEPTOR ASAM DAN TERAPI H2 BLOCKER

Antagonis reseptor H2 ialah agen garis pertama bagi pasien dengan gejala GERD ringan hingga sedang dan esofagitis tingkat pertama dan kedua. Jenis obat yang termasuk kategori ini antara lain:

  • ranitidine
  • famotidine
  • cimetidine
  • nizatidine.

Antagonis reseptor asam ini cukup efektif bagi penyembuhan esofagitis ringan pada 70 hingga 80 persen pasien dengan GERD serta memberikan terapi pemeliharaan untuk mencegah kekambuhan.

Dosis tambahan terhadap terapi tersebut dapat diaplikasikan pada pasien dengan tingkat keparahan lanjut, seperti mereka yang telah memiliki Barret Esofagus yang memiliki terobosan asam nokturnal.

Terapi H2 blocker tambahan telah dilaporkan bermanfaat pada pasien dengan penyakit parah (terutama mereka dengan Barrett esophagus) yang memiliki terobosan asam nokturnal.

INHIBITOR POMPA PROTON (PPI)

Proton Pump Inhibitors merupakan obat yang paling ampuh yang terdapat saat ini untuk mengobati GERD.

Obat PPI mempunyai beberapa efek samping yang dapat ditoleransi dengan baik meski penggunaannya dalam waktu panjang. Namun, beberapa sumber telah menunjukkan bahwa obat-obatan PPI dapat mengganggu homeostatis kalsium dan membuat defek konduksi jantung menjadi buruk.

Bagi pengguna wanita paska menopaus, obat ini bertanggung jawab atas fraktur panggul.

Obat-obatan PPI

Di industri obat-obatan, PPI dapat dijumpai berupa omeprazole, lansoprazole, rabeprazole, dan esomeprazole.

Persetujuan dari Badan Administrasi Obat dan Makanan

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat pada November 2013 menyetujui versi generik pertama tablet natrium rilis-lambat berupa rabeprazole sebagai pengobatan GERD untuk orang dewasa dan remaja yang berusia 12 tahun ke atas.

Efek samping rabeprazole yang paling umum dilaporkan adalah perut kembung, infeksi, sakit tenggorokan, sakit perut, sembelit, diare, dan sakit kepala pada remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Kualitas Kesehatan (AHRQ), disimpulkan bahwa berdasarkan bukti grade A, PPI lebih unggul dibandungkan reseptor H2 untuk pengobatan gejala GERD pada 4 minggu dan penyembuhan esofagitis dalam 8 minggu.

OBAT PROKINETIK DAN PENGHAMBAT REFLUKS

Obat jenis prokinetik cukup efekif, namun hanya berlaku pada pasien dengan gejala ringan. Pasien lain yang lebih berat biasanya akan membutuhkan obat penekan asam tambahan seperti PPI.

Regimen yang umum pada orang dewasa ialah metoclopramide, dikonsumsi secara oral 10 mg per hari.

Terdapat kemungkinan komplikasi serius dan berpotensi fatal jika obat prokinetik ini digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Beberapa Indikasi untuk Operasi / Perawatan Bedah

Bedah atau operasi pada kasus gastroesofagus refluks telah berkembang pesat. Beberapa prosedur yang sudah pernah dipakai antara lain Allison crural repair (perbaikan kasta Allison), Boerema anterior gastropexy (gastropeksi anterior Boerema), dan Angelchik prosthesis (prosteis Angelchick).

Prosedur Allison dan Boerema mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi. Prosedur tersebut jarang diterapkan.

Sementara itu, prostesis Angelchik ialah cincin silikon yang diletakkan di persimpangan gastroesofagus untuk mencegah refluks.

Protesis Angelchik jarang sekali diterapkan pada anak-anak. Metode ini telah banyak ditinggalkan karena terdapat tingkat komplikasi yang tinggi.

Metode yang paling banyak digunakan pada saat ini adalah fundoplikasi transthoracic dan transabdominal, termasuk di dalamnya pembungkus parsial (baik anterior maupun posterior) dan melingkar.

Bedah yang paling umum dilakukan pada anak-anak dan dewasa adalah fundoplikasi Nissen. Fundoplikasi Nissen ini merupakan jenis fundoplikasi transabdominal 360 °. Dilaporkan pertama kali pada tahun 1991, fundoplikasi laparoskopi diteliti dengan hasil yang baik pada populasi orang dewasa.

Jenis prosedur ini juga mendapatkan hasil yang baik pada anak-anak. Tapi, dalam sebuah riset yang melibatkan 119 anak yang menjalani fundoplikasi untuk GERD dengan level parah, 7,6% membutuhkan pengulangan operasi dan 53,8% masih membutuhkan perawatan obat anti refluks dalam 6 bulan masa pemulihan operasi.

Prasyarat / Indikasi atas Operasi Fundoplikasi

Beberapa prasyarat atau indikasi untuk dilakukannya operasi fundoplikasi antara lain:

  • Pasien yang sudah tidak terkontrol lagi saat menggunakan obat PPI. Operasi juga bisa dilakukan jika pasien menginginkan perawatan satu kali yang definitif di mana jika dilakukan operasi tersebut sudah tidak membutuhkan perawatan berupa obat-obatan lagi.
  • Terbukti secara histologis terdapat Barrett Esophagus.
  • Terdapat manifestasi ekstra-esofageal atas GERD yang memerlukan adanya pembedahan, seperti manifestasi pernapasan yang meliputi batuk, mengi, dan masalah aspirasi. Masalah pada telinga, hidung, dan tenggorokan (seperti suara menjadi parau, sakit / radang tenggorokan, otitis media). Manifestasi gigi seperti adanya erosi email gigi akibat asam yang tak terkendali.
  • Pasien masih muda.
  • Pasien dengan tingkat kepatuhan yang buruk terhadap rekomendasi perawatan atau dalam hal pengobatan.
  • Wanita paska menopaus dengan osteoporosis.
  • Pasien yang mengalami defek konduksi jantung.
  • Alasan biaya terapi medis.

Berbagai uji klinis secara random telah menjadi tantangan tersendiri dalam mengendalikan GERD.

Salah satu peneliti bernama Lundell telah menindaklanjuti kelompok pasiennya selama 5 tahun dan tidak menemukan operasi bedah yang lebih unggul daripada terapi PPI.

Dalam penelitiannya, Spechler mengungkapkan bahwa pada 10 tahun paska operasi, 62 persen pasien kambali menggunakan obat anti refluks.

Penelitian yang dilakukan oleg Anvari dan timnya mengungkapkan bahwa pada kurun 1 tahun, kontrol gejala pada pasien dengan operasi bedah lebih baik daripada pada kelompok medis.

FUNDOPLIKASI LAPAROSKOPI

Bedah fundoplikasi jenis ini dilakukan dengan bius endotrakeal umum, menggunakan 5 sayatan kecil dengan lebar 5 hingga 10 mm. Operasi ini dilakukan dengan cara melilitkan fundus lambung ke esofagus untuk membuat katup baru di tingkat persimpangan esofagogastrik.

Beberapa elemen penting yang dilakukan dalam operasi fundoplikasi laparoskopi ini, yaitu:

  • Mobilisasi lengkap fundus lambung dengan pembagian pembuluh lambung pendek.
  • Pengurangan hiatal hernia.
  • Mempersempit hiatus esofagus.
  • Pembuatan fundoplikasi 360° pada dilator infraesofageal yang besar (disebut sebagai Fundoplikasi Nissen).

Pembedahan fundoplikasi laparoskopi membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 2.5 jam dengan masa perawatan di rumah sakit selama 2 hari.

Pasien akan dapat melakukan aktivitas seperti biasanya dalam kurun waktu 2 hingga 3 minggu. Kisaran 92% pasien mengalami manfaat positif setelah menjalani bedah fundoplikasi ini.

Temuan dari AHRQ menyebutkan bahwa fundoplikasi laparoskopi memiliki tingkat efektivitas yang sama dengan fundoplikasi terbuka dalam menghilangkan heartburn, meningkatkan kualitas hidup, dan sangat efektif mengurangi penggunaan obat anti sekresi.

PERAWATAN GERD DENGAN MEMASANG PERANGKAT

Administrasi Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat telah menyetujui dan menetapkan LINX Reflux management System pada Maret 2012.

Perangkat ini dirancang untuk mengikat sfingter esofagus bagian bawah (LES) yang berupa pita atau gelang kecil yang ditempatkan secara laparoskopi di sekitar kerongkongan bagian bawah, tepat di atas lambung, dengan tujuan membuat penghalang alami refluks asam.

Gelang ini terbentuk seperti manik-manik dengan bahan titanium yang saling terkait dengan inti magnetik.

Dalam peninjauannya, augmentasi sfingter magnetik ini akan memperkuat sfingter esofagus (LES) yang tadinya lemah dan menyebabkan refluks menjadi anti refluks dan secara efektif akan mengurangi prosentase waktu paparan asam esofagus (pH <4).

Kelebihan dari bedah ini adalah waktu operasi yang sangat pendek, meskipun begitu, perawatan jenis ini memiliki tingkat keberhasilan yang sama seperti fundoplikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *