Perbedaan Kondisi Normal dan Dysphagia karena GERD dan masalah asam lambung
Perbedaan Kondisi Menelan Normal dan Disfagia

Perawatan Disfagia (Kesulitan Menelan Makanan) Akibat Refluks Asam Kronis (GERD)

Posted on

Kesulitan menelan makanan yang terjadi sekali atau dua kali mungkin bukan masalah yang besar. Seseorang akan menyangka bahwa keadaan tersebut akibat adanya makanan yang tersangkut di bagian bawah mulut. Biasanya masalah akan selesai setelah mendorongnya dengan makanan lain. Namun, ketika kesulitan makanan terjadi dalam skala yang sering dan kita tidak merasa memakan makanan yang sulit kita makan seperti tulang ikan, maka kita perlu mewaspadai ini sebagai masalah yang serius.

Kesulitan menelan atau dalam bahasa medisnya disebut sebagai disfagia (dysphagia) merupakan keadaan yang bisa terjadi saat makanan tidak melewati secara normal dari mulut, esofagus, dan ke lambung. Orang-orang yang mengalami gangguan disfagia akan memiliki sensasi makanan seperti menempel di tenggorokan, merasakan tekanan di dada, bahkan rasa terbakar setelah makan, serta merasa tersedak. Hal ini bisa terjadi karena gejala penyakit GERD (penyakit refluks gastroesofagus), namun juga bisa karena kondisi lain, serta bagian dari komplikasi GERD itu sendiri.

BEBERAPA PENYEBAB KESULITAN MENELAN MAKANAN

Kesulitan menelan dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, dan gejala ini harus selalu mendapatkan pengawasan dari dokter untuk mendapatkan penanganan yang terbaik. Disfagia lebih sering terjadi saat usia bertambah akibat proses penuaan, namun juga perlu diketahui bahwa bisa jadi terdapat faktor lain yang menjadi penyebab primer keadaan tersebut.

Secara umum, penyebab disfagia dapat dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu:

Disfagia Esofagus

Penyebab pertama ini dapat terjadi karena makanan terhenti saat melewati kerongkongan menuju perut Anda. Kategori disfagia yang klasifikasikan dalam kelompok ini terjadi bisa dikarenakan kondisi kejang, tumor, peradangan, alergi terhadap makanan, adanya jaringan perut di jalur tersebut, dan GERD. Karena GERD isi perut bocor secara tidak wajar menuju ke saluran kerongkongan.

Disfagia Orofaring (dalam beberapa sumber disebut sebagai Disfagia Orofaringea)

Penyebab dari kelompok disfagia ini adalah karena terjadi kesulitan memindahkan makanan dari mulut ke kerongkongan. Penyebab yang masuk dalam kategori ini antara lain dikarenakan terdapat penyakit-penyakit neurologis seperti parkinson, multiple sclerosis, dan distrofi otot. Disfagia orofaring juga bisa terjadi karena stroke atau cidera otak. Penyebab lainnya adalah karena jenis kanker tertentu dan bisa juga karena pengobatan radiasi. Ada juga kasus seperti divertuka faring, yaitu terperangkapnya makanan.

GERD DAN KESULITAN DALAM MENELAN MAKANAN

GERD menjadi penyebab yang paling sering bagi penderita disfagia. Saat GERD tidak tertangani dengan baik dengan perawatan yang tepat, ia dapat menyebabkan komplikasi serius di antaranya adalah kesulitan menelan, termasuk esofagitis dan striktur esofagus yang bersifat erosif. Salah satu gejala kanker esofagus yang lebih sering dijumpai pada orang-orang dengan GERD adalah permasalahan kesulitan menelan.

Beberapa gejala GERD lainnya yang dapat dirasakan antara lain:

Nyeri dada. Nyeri ini biasanya dimulai di belakang tulang dada (sternum), dan dapat merambat ke tenggorokan. Kondisi ini bisa terjadi sesaat setelah makan dan dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam.

Suara parau,  yang sering terjadi di pagi hari. Suara serak atau parau terjadi karena adanya iritasi yang disebabkan oleh asam lambung yang direfluks ke tenggorokan.

Batuk kering yang intens. Refluks asam lambung yang terhirup bisa menyebabkan batuk.

Permasalahan bau mulut. Ketika asam dari lambung naik ke tenggorokan dan mulut akan menyebabkan bau nafas / bau mulut.

Terapi yang bisa dilakukan untuk Perawatan Disfagia

Sejumlah terapi dapat diterapkan untuk mengatasi masalah kesulitan menelan makanan ini, diantaranya adalah:

1. Teknik Menelan Supraglotic dan Super Supraglottic

Untuk latihan supraglottic sangatlah mudah dilakukan. Yaitu dengan menelan namun tanpa makanan. Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang dengan tahapan:

  • Ambil napas sedalam-dalamnya
  • Tahan napas ketika menelan
  • Batuklah untuk membersihkan sisa liur atau makanan yang sebelumnya terperangkap di pita suara

Sedikit perbedaan dengan latihan super supraglottic, yaitu dengan tambahan gerakan ekstra.

Setelah proses pertama hingga kedua pada poin latihan supraglotic, lalu lakukan gerakan menelan dengan keras.

Proses tersebut akan menghasilkan tekanan yang dapat membantu proses menelan sekaligus dapat meningkatkan kekuatan otot saat menelan.

2. Manuver Angkat Hyoid

Tujuan dari latihan ini adalah untuk membangun kekuatan dan kendali otot saat proses menelan.

Cara latihan hyoid ini adalah dengan memindahkan lembaran-lembaran kertas dengan sedotan atau pipet.

Hisap melalui mulut sedotan tersebut untuk dapat menarik keras, lalu pindahkan. Lakukan sebanyak 5 hingga 10 perpindahan kertas.

3. Manuver Mendelsohn

Latihan ini berguna dalam membantu refleks menelan. Treatment ini dilakukan dengan cara mengangkat jangkut selama 2 hingga 5 detik.

Lakukanlah latihan tersebut beberapa kali dalam sehari.

4. Latihan Shaker

Cara melakukan latihan ini sangatlah mudah, yaitu dengan berbaring telentang sembari mengangkat kepala.

Jangan mengangkat bahu saat melakukannya. Diperlukan 3 hingga 6 kali latihan dalam sehari dalam kurun rentang 6 minggu.

Tetap berpikir positif dan miliki kepercayaan diri yang penuh agar perawatan ini membuahkan hasil. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta kesembuhan atas gangguan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *