Maag dan GERD
Perbedaan Asam Lambung Biasa dan GERD

Perbedaan antara Refluks Asam dan GERD

Posted on

Apakah Anda punya perasaan seperti terbakar pada dada bagian atas? Jika Anda berpikir bahwa ini adalah heartburn, mungkin saja Anda benar.

Matilda Hagan (seorang gastroenterologis) dari Pusat Infeksi dan Penyakit Usus di Pusat Kesehatan Mercy, Baltimore, Amerika Serikat menyatakan bahwa heartburn merupakan manifestasi atau gejala refluks asam, yaitu isi atau asam lambung di perut yang naik menuju saluran esofagus.

Jika kondisi di atas jarang sekali terjadi, maka masih belum bisa dikatakan Anda terdiagnosis GERD.

Namun jika rasa terbakar tersebut terjadi beberapa kali dalam seminggu, hal tersebut bisa menjadi gejala dari kondisi yang lebih serius yang dikenal dengan penyakit gastroesofagus refluks (GERD).

Meskipun mungkin tampak bahwa GERD merupakan nama yang sering dikaitkan dengan penyakit maag, nyatanya tidak bisa dikatakan sama.

PERASAAN TERBAKAR, APA ITU HEARTBURN?

Pada saat Anda memakan makanan, maka yang terjadi adalah makanan tersebut akan membuat jalan melewati kerongkongan dan menuju lambung Anda.

Di antara kerongkongan dan lambung terdapat sebuah katup otot berbentuk cincin, yang dikenal sebagai katup LES (sfingter esofagus bawah), dengan tugas memastikan bahwa makanan akan terbawa dengan baik dari kerongkongan ke dalam lambung, seperti fungsi palang kereta api yang membuka dan menutup.

Sfingter Esofagus Bawah (LES) adalah Kunci

Membuka saat makanan harus masuk ke lambung, dan menutup kembali setelah makanan berhasil masuk ke dalam lambung.

Penampakan LES dalam saluran cerna bagian atas

Namun, terkadang katup LES tersebut lemah dan tidak benar menutup, yang mengakibatkan sebagian makanan beserta zat asam yang bekerja di dalam lambung, meluber ke atas kerongkongan, sehingga dapat mengiritasinya.

Kondisi tersebut disebut sebagai refluks asam, atau heartburn.

Gejala-Gejala yang Ditimbulkan

American College of Gastroenterology (ACG) memperkirakan bahwa lebih dari 60 juta orang Amerika mengalami heartburn paling tidak sebulan sekali. Gejala-gejalanya meliputi:

  • Sensasi terbakar di bagian dada yang berlangsung dari beberapa menit hingga satu atau dua jam.
  • Rasa tekanan yang lebih besar pada bagian dada jika beraktivitas dalam posisi berbaring atau membungkuk.
  • Rasa pahit dan asam di bagian belakang tenggorokan maupun mulut.
  • Perasaan bahwa makanan “terjebak” di tenggorokan atau di tengah dada. Merasa penuh dengan hanya sedikit makan.

Serangan heartburn ini dapat diatasi sesekali dengan beberapa modifikasi gaya hidup. Perubahan gaya hidup yang biasanya disarankan dokter untuk mengatasi heartburn ini antara lain:

  • Menghindari makanan yang memicu refluks seperti makanan pedas, makanan asam, gorengan,  atau berlemak. Hindari juga makanan dan minuman yang mengandung kafein dan alkohol.
  • Jaga posisi badan terutama bagian atas agar tetap tegak sehabis mengkonsumsi makanan besar agar proses pencernaan pencernaan optimal.
  • Hindari makan pada jam-jam sebelum tidur.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan sedikit banyak membantu menambah resiko terjadinya heartburn. Kelebihan berat badan dapat melemahkan sfingter esofagus bagian bawah (LES).
  • Berhentilah merokok.

Ketika Refluks Asam Menjadi Kronis

Menurut The American College of Gastroenterology, GERD ialah refluks asam yang terjadi lebih dari beberapa kali dalam seminggu. Kondisi orang yang mengalami heartburn sesekali belum tentu bisa dikatakan mereka terkena GERD.

Biasanya seoarang dokter gastroenterologis dapat mendiagnosis gejala ini dengan mengevaluasi frekuensi gejala dan tingkat keparahan.

Dr. Cohen Louis Cohen yang merupakan gastroenterologis dan asisten profesor pada Icahn School of Medicine at Mount Sinai Hospital di New York menyatakan bahwa untuk mengkonfirmasi diagnosis, ia akan memasang sebuah probe ke dalam esofagus pasien untuk memastikan seberapa sering refluks asam terjadi.

Antara Perubahan Gaya Hidup dan Obat-obatan

Perawatan bagi penderita GERD dapat dimulai dengan memodifikasi gaya hidup sebelum melakukan treatment dengan obat.

Obat yang paling sering diresepkan untuk GERD adalah jenis Proton Pump Inhibitor (PPI), seperti:

  • Prevacid (lansoprazole)
  • Nexium (esomeprazole)
  • Prilosec (omeprazole)

Obat-obatan PPI bekerja untuk mengurangi jumlah asam yang diproduksi oleh lambung. The American College of Gastroenterology juga merilis bahwa terdapat bukti kuat bahwa penggunaan PPI selama delapan minggu dapat mengurangi gejala dan dapat memperbaiki lapisan esofagus yang telah rusak oleh asam lambung.

Obat lain yang disebut penghambat asam (H2 Blocker) seperti Zantac (ranitidine) atau Pepcid (famotidine) juga dapat dicoba dan efektif. H2 blocker bertugas untuk menurunkan produksi asam lambung.

Dr. Cohen menambahkan, jika telah ditentukan bahwa gejala GERD disebabkan oleh hipersensitivitas atau relaksasi berlebihan pada esofagus bagian bawah (LES), ia akan meresepkan anti depresan trisiklik atau penghambat serotonin selektif.

Menunda Perawatan GERD Beresiko Menimbulkan Komplikasi

Jika GERD tidak ditangani dengan baik dan segera, akan beresiko menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Salah satu masalah tersebut adalah esophagitis, yang merupakan peradangan di kerongkongan.

Jika tidak ditangani dan diobati lebih lanjut. maka dapat mengembangkan striktur, yaitu penyempitan kerongkongan yang dapat menyebabkan rasa sakit serta berpengaruh saat proses menelan makanan.

Komplikasi lain dari GERD adalah sebuah kondisi yang dikenal sebagai Barrett’s Esophagus (BE). “Seiring waktu, asam lambung menyebabkan sel-sel di lapisan esofagus terlihat lebih seperti lapisan perut,” kata Hagan. Perubahan-perubahan ini, yang terjadi pada tingkat sel, mungkin dalam kasus yang jarang menyebabkan bentuk kanker esofagus yang disebut adenokarsinoma esofagus.

Salah satu komplikasi yang disebabkan kondisi GERD berkepanjangan adalah Barrett Esophagus

Baret Esofagus umumnya dijumpai pada:

  • Laki-laki Kaukasia
  • Orang dengan usia 50 tahun keatas
  • Perokok
  • Orang dengan obesitas

Dalam sebuah jurnal kanker dalam penelitiannya di tahun 2013, kanker ini menunjukkan sedang mengalami trend peningkatan.

Penelitian baru dalam Journal of American Medical Associaton pada Mei 2016 menyebutkan bahwa “pembakaran kimiawi” asam lambung mungkin bukanlah satu-satunya penyebab perubahan pada lapisan esofagus.

Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa kerusakan dapat diakibatkan oleh respon inflamasi terhadap protein yang disebut cyotokines di mana cyotokines tersebut disekresikan di dalam lapisan usus pada orang dengan GERD.

Jika Anda sudah mengalami baret esofagus dokter, mungkin akan menyarankan pengamatan endoskopi, yang berarti ia akan melakukan endoskopi secara terjadwal untuk melihat progres seberapa baik esofagus dengan terapi obat.

Secara garis besar, jika Anda mengalami heartburn pada frekuensi yang meningkat, diskusikan dengan dokter untuk dilakukan pengujian dan mengungkap masalah yang terjadi.

Jika Anda serius mengobati GERD dengan perubahan gaya hidup atau pengobatan, Anda dapat menghindari komplikasi yang lebih parah.

2 thoughts on “Perbedaan antara Refluks Asam dan GERD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *