Tips dan Cara Cerdas Mengatasi GERD
Selamat Jalan Refluks Asam dan GERD

Selamat Tinggal Refluks Asam dan GERD, Sebuah Panduan Khusus untuk Pasien dan Penderita

Posted on

Refluks asam merupakan kondisi medis umum yang telah mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Bagi sebagian orang, refluks merupakan masalah kecil bagi mereka, namun tidak untuk seseorang yang mendapati masalah ini setiap hari.

Orang yang mengalami refluks asam mungkin akan mengkonsumsi obat setiap hari, melakukan perubahan gaya hidup, bahkan dalam kondisi yang parah, tindakan operasi bisa dilakukan. Terlepas separah apa kondisi refluks asam yang dialami seseorang, pasti akan menimbulkan dampak tertentu dalam hidupnya.

Seseorang dengan gangguan asam lambung tidak selalu mudah dalam mengatasi penyakit ini. Gangguan ini membutuhkan perawatan jangka panjang dan tingkat keseriusan serta disiplin yang tinggi bagi penderitanya. Jika perawatan dilakukan ala kadarnya dan terkesan main-main, maka risiko yang lebih tinggi dapat terjadi dalam jangka panjang.

Bagaimana Memahami Cara Kerja Refluks Asam?

Refluks asam merupakan salah satu gangguan pencernaan yang telah mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Tidak seperti penyakit atau gangguan tertentu yang mempertimbangkan faktor usia, gangguan asam lambung dapat terjadi kepada siapa saja, tidak berpengaruh pada umur, etnis, ras, dan jenis kelamin tertentu.

Jika anggota keluarga Anda saat ini tidak ada yang memiliki riwayat gangguan asam lambung, bukan berarti Anda juga tidak berisiko mengalaminya, begitu pula sebaliknya, berlaku pada anggota-anggota keluarga Anda yang lain.

Tingkat keparahan gangguan asam lambung ini bervariasi. Terlepas dari seberapa berat tingkat keparahan dan frekuensi gangguan yang ditimbulkan, gangguan refluks asam adalah hasil dari kerusakan sistem pencernaan.

Tergantung bagaimana dokter menilai gejala-gejala yang sedang Anda hadapi, ia mungkin akan menegakkan salah satu dari kedua diagnosis ini, yaitu:

  • Refluks asam biasa (Acid reflux), atau
  • Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Kedua diagnosis tersebut dapat ditegakkan karena akar masalah yang sama. Pembeda di antara keduanya adalah dari faktor keparahan dan tingkat frekuensi gejala yang ditimbulkan.

Pasien yang menderita heartburn atau gejala refluks lainnya dengan frekuensi lebih dari 2 kali dalam seminggu didiagnosis dengan GERD.

Penyakit refluks asam maupun GERD bisa menyebabkan konsekuensi kesehatan jangka panjang.

Heartburn adalah rasa terbakar, perih, dan panas di bagian dada yang disebabkan oleh naiknya asam lambung dari perut ke kerongkongan (esofagus).

Lower Esophageal Sphincter dengan Sistem Buka Tutupnya

Penyebab utama semua kasus refluks asam adalah lemahnya Lower Esophageal Sphincter (LES), sebuah otot kecil yang berbentuk seperti cincin sebagai penghubung antara kerongkongan dan lambung.

Kerongkongan berbentuk tabung yang memanjang dari mulut hingga ke lambung. Tabung ini akan membawa makanan apapun baik makanan maupun minuman menuju lambung dengan gerakan peristaltik.

Dalam keadaan normal, LES akan bertugas sebagai katup satu arah yang mengizinkan makanan dan minuman masuk ke dalam lambung, kemudian menutup kembali dengan kuat untuk mencegah isi perut tersebut kembali ke kerongkongan.

Jika Anda mengalami penyakit refluks asam atau GERD, ini menandakan katup LES Anda tidak berfungsi dengan baik. Keadaan ini menjadi jawaban mengapa asam lambung yang bersifat korosif tersebut bisa naik hingga ke laring (saluran pernapasan), tenggorokan, dan mulut. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim, pengaruhnya bisa menuju ke organ pernapasan (paru-paru).

Setiap orang yang menderita gangguan ini mungkin akan mengalami tingkat kerusakan LES yang berbeda-beda. Beberapa tingkat keparahan yang mungkin terjadi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • LES tidak menutup sepenuhnya setelah makanan dan minuman melewati katup tersebut.
  • LES benar-benar lemah, membuka dan menutup dengan sendirinya.

Pada kondisi pertama, lambung yang bekerja seperti mesin cuci saat mencerna makanan berpotensi memercikkan sebagian asam ke luar bagian LES yang tidak menutup sepenuhnya menuju kerongkongan. Hal yang lebih parah dialami pada kondisi kedua, asam dan isi makanannya bisa membanjiri kerongkongan.

Salah satu faktor yang menyebabkan kedua kondisi di atas adalah gaya hidup, termasuk berat badan. Dalam sejumlah kasus, faktor anatomi juga bisa menyebabkan tidak berfungsinya LES dengan baik.

Selamat Tinggal Asam Lambung dan GERD, Katup LES adalah kunci penyebab gangguan tersebut
Lower Esophageal Sphincter (LES)

Terdapat sejumlah gejala yang berhubungan dengan refluks asam. Salah satu gejala yang paling umum adalah heartburn. Seseorang yang mengalami heartburn biasanya akan merasakan sensasi panas, nyeri, dan terbakar di bagian dada, bahkan bisa sampai menembus ke belakang, yaitu bagian punggung. Keadaan ini disebabkan oleh adanya lonjakan asam lambung yang menuju ke kerongkongan. Bagi seseorang yang tidak mengetahui karakter gangguan ini, kadang mereka akan menyangka jika sedang mengalami serangan jantung.

Gejala “Kategori Ringan” bagi Penderita Gangguan Asam Lambung dan GERD

Beberapa gejala yang relatif tidak berbahaya terkait gangguan asam lambung ini antara lain:

Meskipun gejala-gejala tersebut tidak tampak serius, jika tidak segera mendapatkan penanganan dengan cepat dan tepat, lambat laun akan mengganggu kualitas hidup penderitanya.

Waspadai Jika Striktur dan Barret Esofagus Terjadi

Refluks asam yang menyebabkan gejala secara terus-menerus dan tidak segera ditangani dengan baik bisa menimbulkan beberapa kondisi kesehatan yang lebih serius dan dapat mengancam jiwa seseorang. Salah satu kondisi yang lebih serius terkait dengan gangguan refluks asam ini adalah striktur esofagus.

Striktur esofagus adalah penyempitan saluran kerongkongan yang dapat mengakibatkan kesusahan dalam menelan (dalam bahasa medis disebut disfagia), kadangkala dibutuhkan pembedahan untuk mengatasi kondisi ini.

Bahkan, kondisi yang lebih serius terkait dengan hal tersebut adalah Barret esofagus, yaitu keadaan saat jaringan normal yang melapisi kerongkongan berubah menjadi jaringan yang lebih kasar yang menyerupai selaput usus. Riset menyebutkan bahwa sekitar 10 persen orang dengan GERD kronis berisiko mengalami Barret Esofagus. Jika tidak tertangani dengan baik, Barret esofagus dapat berkembang menjadi adenakarsinoma esofagus, yaitu kanker kerongkongan yang serius dan berpotensi mematikan. Oleh karena itu, Barret esofagus sering disebut-sebut sebagai prekursor kanker kerongkongan.

Bagi penderita refluks asam maupun GERD, kebanyakan dari mereka tidak hanya sekedar mengalami komplikasi medis selama mengobati gangguan tersebut, namun juga bisa mempengaruhi kehidupan sehari-hari, seperti mempengaruhi suasana hari, emosi, hingga gangguan tidur.

Rasa was-was dan khawatir juga bisa dialami saat sedang melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan saat memilih makanan untuk memastikan refluks asam yang dihadapi agar tidak memperparah gejala.

Bagaimana Pola Diet dan Gaya Hidup menjadi Faktor Penting bagi Pasien dengan Gangguan Refluks Asam dan GERD?

Bagi sebagian orang, perubahan diet dan gaya hidup mungkin mudah dilakukan. Namun, bagi penderita refluks asam dan GERD akan menjadi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Jika Anda mengalaminya, pastikan untuk tidak menyerah, tetap disiplin dalam menjalankan program tersebut hingga menghasilkan perbaikan yang berarti dalam mengatasi penyakit tersebut.

Salah satu keuntungan jika Anda disiplin dengan perubahan gaya hidup dan diet yang teratur justru akan menguntungkan sisi keuangan Anda. Meskipun pengobatan dan tindakan operasi bisa sangat mahal, perubahan pola hidup dan diet adalah sebaliknya.

Diet yang dimaksud di sini adalah spesifik untuk tujuan mengurangi risiko gangguan asam lambung. Jadi sama sekali berbeda dengan jenis diet lainnya, seperti diet untuk menurunkan berat badan. Pengetahuan ini yang harus dipahami bagi penderita refluks asam terlebih GERD, karena mereka harus tahu kapan dan apa yang harus dimakan atau diminum selama menjalani proses ini.

Beberapa Jenis Makanan yang Secara Universal Memperngaruhi Seseorang dengan Refluks Asam dan GERD

Berikut adalah macam-macam makanan yang dimaksud:

  • Makanan tinggi lemak. Jenis makanan ini akan mengalami proses yang lebih lama di dalam lambung. Karena beban lambung menjadi besar, maka tubuh akan dirangsang untuk memproduksi asam lambung agar pengolahan makanan segera tuntas. Semakin banyak asam lambung yang berputar di perut Anda, semakin besar pula peluang asam dan isinya masuk ke dalam kerongkongan. Makanan berlemak dan berminyak juga menyebabkan katup LES menjadi lebih rileks.
  • Makanan pedas. Jenis makanan pedas juga menjadi hal yang umum, momok bagi orang-orang dengan refluks asam maupun GERD. Meskipun tidak mempengaruhi secara langsung seperti halnya makanan berlemak, makanan pedas ternyata juga bisa menyebabkan si penderita menjadi mulas dan mengalami heartburn.
  • Makanan dengan terlalu banyak campuran bahan. Sejumlah ahli diet mempercayai bahwa makanan dengan komposisi yang rumit atau dengan banyak macam bahan akan sulit dicerna. Makanan-makanan seperti ini akan berdiam di lambung lebih lama yang dapat berisiko memperpanjang pengaruh refluks asam.
  • Makanan dengan tingkat asam yang tinggi. Meskipun pengaruhnya tidak secara langsung dapat menyebabkan refluks asam, makanan dengan kadar asam yang tinggi berisiko meningkatkan rasa sakit dan kerusakan, terutama jika kondisi korongkongan sudah meradang dan teriritasi.
  • Makanan olahan. Saat makanan olahan masuk dalam daftar jenis makanan yang mempengaruhi asam lambung bagi penderita refluks adam maupun GERD, Anda mungkin akan protes. Namun, ini adalah salah satu jalan terbaik yang menjadi perhatian untuk Anda untuk sementara dihindari. Beberapa pakar diet mempercayai bahwa makanan olahan akan membutuhkan kerja keras lambung untuk memecah dan memprosesnya. Konsekuensinya akhirnya sama dengan jenis makanan berlemak, yaitu akan menyebabkan periode pencernaan lebih lama dan membutuhkan asam lambung yang lebih banyak dalam memproses dan mengolah makanan. Jadi, baik kiranya untuk menghindari sejumlah jenis makanan yang sulit dicerna secara mekanis.

Terkhusus tentang makanan, 3 faktor ini penting untuk Anda perhatikan:

  • Waktu makan
  • Porsi makan
  • Jenis makanan

Sebagian besar orang melakukan aktivitas makan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam. Bahkan, tidak jarang yang menempatkan porsi makan malam menjadi yang tertinggi di antara ketiga waktu tersebut. Meskipun hal tersebut sudah menjadi tradisi, akan menjadi masalah khusus bagi orang-orang dengan refluks asam dan GERD.

Orang-orang yang mengalami gangguan asam lambung seperti GERD malah disarankan untuk memakan dalam porsi sedikit-sedikit, namun lebih sering. Dengan kata lain, 3 jatah porsi makanan yang biasanya dikonsumsi dalam 3 waktu, yaitu siang, sore, dan makam, dirubah menjadi beberapa waktu sehingga porsinya dapat terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Porsi makanan yang besar bisa berdampak pada tekanan yang tinggi di area LES, sehingga akan memungkinkan sejumlah asam lambung akan keluar menuju kerongkongan melalui katup yang mendapat tekanan tinggi tersebut. Tekanan tinggi pada katup LES akan membuatnya menjadi lebih rileks dan lemah.

Jadi, saran terbaik bagi penderita refluks asam maupun GERD terkait dengan porsi makanan adalah, ubah polanya dari 3 kali sehari menjadi 5 kali sehari dengan porsi yang lebih kecil. Pola ini akan membantu mengurangi stres pada perut dan katup LES Anda.

3 Kunci Pola Makan bagi Pasien / Penderita GERD
Tiga Kunci Utama Mengelola Pola Makan bagi Penderita Refluks Asam dan GERD

Porsi makan pada sore atau malam hari lebih baik yang paling kecil daripada pagi dan siang hari. Hal ini dikarenakan tubuh Anda memerlukan energi lebih banyak di pagi dan siang hari. Pola ini juga akan mengurangi beban lambung di malam hari, sehingga produksi asam tidak menjadi banyak yang bisa mempengaruhi dan memicu gejala.

Pastikan untuk memberi jeda antara makan dan tidur (berbaring), paling tidak 2 atau 3 jam setelah makan. Hal ini untuk memberikan kesempatan lambung untuk menyelesaikan tugasnya di jam-jam pertama setelah makan, agar cipratan asam lambung dapat diminimalisasi. Risiko asam lambung berbalik ke kerongkongan akan lebih besar jika Anda berbaring sesaat setelah makan besar dan akan memicu gejala-gejala yang ditimbulkan akibat refluks asam.

Sejauh ini, faktor yang paling penting saat orang berjibaku dengan refluks asam adalah berat badan. Namun, alasan pasti atau mekanisme bagaimana berat badan menjadi penyebab atau pemicu refluks masih belum diketahui. Mereka mencurigai bahwa berat badan dapat menekan sistem pencernaan.

Berat badan yang berlebih, terutama di bagian perut, dicurigai dapat meningkatkan tekanan pada lambung. Tekanan ini memungkinkan isi lambung terdorong menuju ke kerongkongan. Penelitian juga menyebutkan bahwa kelebihan lemak dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengosongkan perut dengan cepat. Semakin lama makanan bertengger di lambung, semakin besar pula kesempatan refluks menyerang.

Kehilangan beberapa kilogram mungkin merupakan hal yang diperlukan oleh Anda untuk mengurangi refluks asam. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa penurunan berat badan dapat menjadi metode pengobatan yang paling efektif untuk orang-orang dengan gangguan refluks asam dan GERD. Penelitian lain dilakukan terhadap wanita bahwa turunnya berat badan dapat mengurangi risiko heartburn hingga 40 persen.

Menurunkan berat badan bukan sekedar berbicara tentang berolahraga. Karena, kadangkala olahraga sendiri malah memberikan dampak yang buruk bagi penderita refluks asam atau GERD. Biasanya dokter tidak menyarankan jenis olahraga atau latihan yang berpotensi berdampak pada situasi yang memperburuk refluks, seperti lari.

Olahraga sit-up juga bisa memperburuk situasi refluks Anda, karena akan meningkatkan tekanan pada perut Anda. Berjalan kaki merupakan salah satu latihan yang bisa dijadikan rutinitas yang tidak berdampak berat pada kondisi refluks Anda. Dengan berjalan kaki secara rutin akan membakar kalori tanpa menambah stres pada LES.

Kombinasi antara olahraga ringan dan menjalani diet refluks asam dengan disiplin, akan memberikan efek baik terhadap perkembangan dan proses penyembuhan penyakit ini.

Kebiasaan yang Perlu Dihindari Agar bisa Mengucapkan Selamat Tinggal kepada Refluks Asam dan GERD

Beberapa kebiasaan seperti:

  • Merokok
  • Mengkonsumsi kafein
  • Minum alkohol

dapat mempengaruhi refluks atau GERD. Ketiga kebiasaan di atas mungkin akan sangat berat bagi penderita pemula yang sudah terbiasa dengan merokok, minum alkohol, dan mengkonsumsi minuman berkafein. Namun, yang menjadi fakta adalah bahan-bahan tersebut merupakan stimulan dengan kualitas adiktif. Ini akan berat, tapi tentu saja akan memberikan dampak positif terhadap proses perawatan Anda dalam menghadapi refluks asam atau GERD.

Pemakaian tembakau, apapun jenisnya, telah dikaitkan memiliki hubungan dengan refluks asam atau GERD. Riset telah membuktikan bahwa tembakau dapat menghambat produksi air liur. Ini akan menjadi buruk mengingat air liur mempunyai peran yang sangat penting dalam proses pencernaan. Air liur berguna dalam membantu memecah dan membersihkan makanan dari kerongkongan. Tidak hanya itu, air liur juga bertugas membersihkan asam dari kerongkongan. Tidak tercukupinya air liur dengan baik akan membuat proses pencernaan kurang efisien.

Tembakau juga dapat meningkatkan produksi asam lambung. Kelebihan produksi asam lambung tentu akan mempengaruhi risiko refluks yang lebih besar. Selain itu, asap tembakau dari hasil aktivitas merokok juga dapat mengiritasi kerongkongan, tenggorokan, dan paru-paru.

Kafein merupakan jenis stimulan lain yang bisa mempengaruhi refluks. Cukup untuk tidak berlebihan mengkonsumsinya. Bagi kebanyakan orang, dua cangkir kopi atau the yang disuguhkan dalam sehari umumnya tidak berdampak luar biasa terhadap refluks mereka. Namun, meminum bercangkir-cangkir sepanjang hari tentu akan berisiko atas dampak yang lebih buruk.

Sejumlah komunitas ilmiah telah melakukan beberapa rilis tentang hubungan antara kopi berkafein dan refluks. Sebuah meta analisis yang dilakukan pada tahun 2014 yang merupakan gabungan dari 15 studi terpisah untuk mencoba sampai pada kesimpulan yang signifikan secara statistik menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan kopi dan GERD.

Tetapi, penelitian lain menunjukkan bahwa kafein dapat merusak kinerja LES. Biji-bijian yang dipanggang atau disangrai hingga menjadi gelap membuat konsentrasi bahan kimianya menjadi lebih tinggi, seperti kandungan N-methylpyridinium. Zat tersebut telah terbukti secara ilmiah dapat merangsang lebih sedikit sekresi asam lambung daripada panggangan yang lebih ringan.

Tidak perlu takut terkait dengan konsumsi kafein ini. Saran terbaiknya adalah hindari terlebih dahulu selama proses perawatan. Lambat laun berjalan, cobalah dengan porsi sedikit demi sedikit dengan mempertimbangkan perkembangan reaksi tubuh Anda, apakah berdampak pada refluks atau tidak, dengan melihat gejala-gejala yang ada. Jika tubuh merespon dengan baik, Anda bisa lanjutkan dengan batas kewajaran.

Jenis minuman lain yang perlu menjadi perhatian adalah soda. Selain mengandung kafein dengan kadar tinggi, soda juga mempunyai asam karbonat dan karbonasinya dapat menyebabkan gas juga perasaan kembung yang dapat memberikan dampak intensif terhadap refluks.

Berikutnya adalah alkohol. Segala bentuk alkohol dapat menjadi sebab gangguan refluks. Ini akan mengganggu proses pembersihan asam dari kerongkongan, terutama saat pengkonsumsinya sedang berbaring. Alkohol dapat memperlambat otot-otot kerongkongan beserta pembersihan asam yang menyembur ke area tersebut dari lambung.

Salah satu kunci pengelolaan pola hidup untuk penderita asam lambung dan GERD
Kebiasaan Buruk yang Perlu DIhindari bagi Penderita Gangguan Asam Lambung

Hal tersebut mengindikasikan bahwa setiap asam korosif yang masuk ke dalam kerongkongan akan memiliki banyak waktu untuk merusak lapisan kerongkongan Anda, sehingga komplikasi-komplikasi seperti penyempitan kerongkongan atau bahkan Barret esophagus bisa saja terjadi.

Masak-masak Dahulu, Restoran-restoran Kemudian, Tips Khusus bagi Pasien Refluks Asam dan GERD untuk Mengamankan LES

Salah satu tips untuk mengurangi gejala refluks Anda adalah dengan memasak makanan di rumah. Memasak masakan sendiri akan memberikan kontrol yang lebih baik terhadap pemilihan bahan dan pengaturan selera masakan Anda.

Dengan pengetahuan yang utuh terhadap apa-apa saja bahan yang aman untuk penderita refluks asam maupun GERD, tentu akan dapat mengendalikan gangguan-gangguan tersebut dengan lebih baik.

Setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap bahan makanan yang digunakan dalam masakan. Bawang putih mungkin tidak mengganggu Anda, namun Anda terganggu dengan bahan makanan yang mengandung tomat. Begitu pula sebaliknya, orang lain mungkin akan mengalami pengalaman yang berbeda, lebih aman makan tomat daripada bawang.

Saat Anda memakan jeruk dan kemudian memicu heartburn, itu pertanda karena Anda menjadi tahu untuk menghindarinya. Secara umum, hindari beberapa makanan yang mengandung:

  • Tomat
  • Cokelat
  • Mint

Cobalah untuk menghindari memasak makanan dengan bahan-bahan di atas.

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengolah makanan tersebut agar menjadi lebih “ramah” terhadap refluks Anda, seperti dengan merebus atau mengukus, ketimbang dengan cara digoreng dan ditumis. Metode ini merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi sebagian lemak dari makanan tersebut dan membuatnya lebih mudah untuk dicerna.

Mengurangi porsi daging dan menambahkannya dengan sayuran akan memberikan manfaat untuk Anda. Makan daging dengan porsi berlebih akan mengakibatkan lambung Anda akan bekerja lebih keras dan lebih lama. Kerja kerasnya lambung tentu akan membutuhkan kadar asam yang lebih tinggi yang bisa menjadi masalah bagi penderita refluks asam.

Minum air saat dan setelah makan juga merupakan cara yang baik untuk mengurangi gejala refluks, terutama heartburn. Air akan membantu menyiram dan memaksa asam lambung atau makanan dari kerongkongan untuk kembali ke perut Anda.

Disamping itu, air juga mampu melarutkan asam yang terperangkap di dalam kerongkongan. Semakin banyak asam yang encer, maka semakin sedikit dampak kerusakan yang ditimbulkan karenanya. Walaupun air sangat membantu dalam proses ini, Anda harus tetap menghindari jenis air yang mengandung alkohol dan minuman berkarbonasi, karena air berkarbonasi dapat meingkatkan tekanan di dalam perut dan bisa mengganggu kinerja bahkan merusak katup LES.

Ketika terdapat sejumlah makanan yang dapat memicu asam lambung naik ke kerongkongan, ada pula makanan yang dapat mengurangi risiko refluks. Salah satu pilihan terbaik adalah outmeal. Bukan hanya sehat secara umum, outmeal juga merupakan makanan rendah lemak dan tinggi serat yang dapat membantu menenangkan perut.

Jahe yang merupakan rimpang-rimpangan juga bisa menjadi pilihan terbaik untuk dikonsumsi. Kualitas zat anti-inflamasinya yang baik, sering digunakan sebagai bahan pengobatan untuk mengatasi masalah pencernaan, seperti refluks.

Pisang dan melon adalah beberapa contoh buah-buahan yang masih ditoleransi dengan baik untuk orang-orang dengan gangguan asam lambung maupun GERD. Pada sebagian kecil orang, pisang dan melon bisa memperburuk refluks. Sementara itu buah-buahan yang mengandung asam tinggi seperti tomat dan jeruk, perlu untuk Anda hindari selama perawatan.

Masukkan daftar sayuran dan akar-akaran atau rimpang tertentu sebanyak mungkin dalam diet. Beberapa jenis sayur seperti kembang kol, brokoli, asparagus, dan kacang hijau semuanya sangat bergizi dan tidak berkontribusi langsung pada refluks atau GERD Anda, kecuali jika Anda mengolahnya dengan cara digoreng.

Adas juga bisa menjadi pilihan terbaik untuk melawan refluks. Riset menunjukkan bahwa adas dapat membantu menenangkan perut dan membuatnya bekerja secara efisien. Anda dapat mengirisnya tipis-tipis dan menambahkannya ke dalam salad atau hidangan makanan Anda, tentunya makanan yang bebas dari penyebab heartburn.

Jangan takut untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti beras merah. Makanan-makanan tersebut akan memberikan energi yang lebih baik dan mengandung serat tinggi, serta tidak menyebabkan masalah untuk refluks Anda.

Makanan dan Minuman Pemicu Gangguan Asam Lambung dan GERD
3 Makanan Pemicu Umum Heartburn (batasi asupan)

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai konsumsi protein Anda. Lebih baik carilah alternatif untuk mengganti daging berlemak tinggi dengan pilihan yang lebih ramping seperti ayam atau kalkun. Jika Anda tidak terlalu suka dengan ayam, Anda masih tetap bisa mengkonsumsi daging tanpa lemak, namun tetap dengan olahan yang tidak membuat refluks Anda semakin menjadi-jadi. Masih dalam hal asupan protein, alternatif terbaik untuk mengganti protein hewan darat adalah ikan. Sebagian besar jenis ikan memiliki kandungan rendah lemak, namun tinggi protein.

Penanganan Refluks Asam dan GERD dalam Situasi Khusus

Terdapat pula situasi khusus yang dapat mempengaruhi refluks asam seseorang. Beberapa di antaranya adalah pada kelompok anak-anak, orang tua, dan ibu hamil.

Namun, terdapat situasi unik lain yang dapat mempengaruhi bagaimana cara Anda melakukan perawatan terhadapnya. Salah satu contoh kasus khusus yang menyebabkan refluks asam ini adalah hiatal hernia.

Hiatal hernia merupakan kondisi ketika sebagian kecil bagian lambung terdorong ke dalam lubang diafragma. Hernia yang lebih kecil mungkin tidak akan menimbulkan gejala yang dirasakan. Namun, sebaliknya, hernia yang lebih besar bisa menyebabkan makanan dan asam lambung terperangkap di dalam kerongkongan. Ini akan menyebabkan efek refluks yang parah dan memberikan rasa tidak nyaman.

Untuk kasus ini, Anda memerlukan bantuan dokter dalam memverifikasi apakah hiatal hernia menjadi penyebab refluks asam. Beberapa tes yang mungkin dilakukan untuk memverifikasi kondisi ini antara lain:

Dengan demikian, model perawatan yang tepat bisa dijalankan dengan baik atas hasil dari tes-tes tersebut.

Terdapat berbagai perawatan yang dapat dilakukan untuk hiatal hernia dan itu tergantung pada kondisi seseorang yang sedang mengalaminya. Dalam sejumlah kasus, dokter mungkin meresepkan antasid yang dijual bebas bahkan resep obat asam lambung.

Bagian Pertama dari Sesi Pengetahuan Umum tentang Gangguan Asam lambung dan GERD

Perawatan hiatal hernia biasanya juga mengharuskan Anda untuk menyesuaikan jadwal makan dan tidur. Penting bagi Anda untuk mengambil waktu makan beberapa kali dalam sehari namun dalam porsi yang kecil. Sebisa mungkin, coba untuk meminimalkan jumlah makanan yang dikonsumsi dalam satu waktu. Ini akan mengurangi kemungkinan refluks atau gejala-gejala GERD yang datang kemudian. Anda juga disarankan untuk tidak berbaring atau tidur paling tidak 3 jam setelah makan.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan merekomendasikan Anda untuk melakukan operasi. Prosedur yang biasanya direkomendasikan untuk mengatasi hiatal hernia adalah bedah laparoskopi dengan waktu pemulihan antara lima hingga sepuluh hari.

Selain hiatal hernia, penanganan refluks asam maupun GERD yang disertai dengan ulkus atau ulcer. Ulkus lambung merupakan ulkus yang terbentuk pada lambung atau bagian atas usus kecil yang disebut duodenum. Ulkus dapat disebabkan oleh peradangan, infeksi, bahkan bakteri tertentu. Beberapa ulkus bisa disebabkan oleh kanker.

Untuk penderita GERD yang disertai dengan ulcer, biasanya akan mengalami rasa sakit yang lebih berat. Gejala refluks cenderung berdampak pada dada bagian atas, namun nyeri ulkus biasanya terdapat di antara sternum (tulang dada) dan pusar. Saat Anda mengalami GERD yang terkombinasi dengan ulkus, rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dirasakan tidak sekedar pada dada bagian atas, namun menjulur ke area perut.

Jika dalam pengamatannya dokter menentukan bahwa ulkus Anda ternyata disebabkan oleh bakteri yang hidup dalam lendir yang melapisi perut, ia akan mengobati bakteri tersebut dengan obat antasid dan antibiotik kuat selama 7 hingga 14 hari. Jenis bakteri yang biasa menjadi sorotan untuk kasus ini adalah Helicobacter pylori, sebagian mengenalnya dengan H. pylori.

Tanda-tanda terinfeksi virus atau bakteri H. Pylori
Gejala infeksi akibat bakteri H. Pylori

Tingkat keberhasilan pengobatan terhadap bakteri H. pylori ini biasanya ditandai dengan lapisan perut yang pulih yang kemudian mengeluarkan lebih banyak asam. Dalam situasi ini, mungkin akan membuat refluks asam yang Anda alami menjadi lebih buruk, paling tidak untuk sementara. Setelah bakteri H. pylori berhasil dibersihkan, Anda mungkin masih memerlukan perawatan dengan obat antasid dalam waktu lama untuk mengatasi refluksnya.

One thought on “Selamat Tinggal Refluks Asam dan GERD, Sebuah Panduan Khusus untuk Pasien dan Penderita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *